Sabtu, 22 Juni 2013

Rain



GLEGAAR…..      

Suara besar itu yang selalu membuatku ingin menutup kedua telingaku. Cahaya putih membuatku selalu menutup kedua mataku. Tetesan air yang turun itu membuatku ingin menghindar dari apa yang terjadi saat itu. Hujan. Aku tidak pernah mau menyebutkan kata itu.


Namaku Miranda. Nama itu juga temasuk dalam nama lengkapku. Aku tinggal bersama ibuku. Entah mengapa, orangtuaku memberikanku nama yang begitu sederhana. Dan, orang-orang begitu menyukaiku. Tidak tahu, aku memang terlahir dalam keluarga cukup pandai berteman. Keluargaku selalu mengajariku untuk bersikap sopan, dan ramah. Apa mungkin hal itu yang orang-orang suka dariku?
Tapi aku tidak selamanya disukai, orang-orang membenciku saat satu hal yang paling kubenci itu terjadi. Hujan. Sejak kecil, aku selalu takut saat terjadi hujan. Aku selalu berlari kesana-kemari mencari tempat untuk berteduh. Hal itu memang sering terjadi pada orang lain. Tapi aku berbeda, setelah itu, aku selalu menangis dan menyendiri hingga hujan berhenti. Orang-orang menganggapku wanita aneh. Mereka tidak pernah bisa menerima kenyataan bahwa aku phobia hujan.

“Hujan itu anugerah, Mir! Ngapain kamu takut, udah ayo pulang!”Ajak Rian yang melihatku duduk di pojokan halte sambil menangis dan menutup mata. Badanku gemetar, aku tak tahan hawa dingin. Aku terdiam, tidak menjawab pertanyaannya. Jujur ,aku tidak mau pulang sampai hujan berhenti. Aku seperti tidak ingin mataku melihat gemericik air itu.

“Miranda.. Ayo pulang!”Rian terus memaksaku pulang. Ucapan itu sudah lebih dari 5 kali ia ucapkan. Aku tetap menangis dan terdiam. Rian semakin kesal melihatku terus menangis.

“Miranda! Jangan kaya anak kecil deh. Yaudah, kalau kamu mau terus disini, kamu disini aja sampai lumutan! “Bentak Rian dengan wajah kesal. Entah sudah berapa puluh menit ia menungguku berhenti menangis. Dia tidak mengerti rasa takutku. Dia tidak merasakannya. Aku masih menutup mulut dan menangis. Sakitnya aku dibentak seperti itu olehnya.

“Miranda, aku sudah cukup sabar selama ini. Tapi, kamu gak berubah. Mir, aku capek. Maaf, hubungan kita cukup sampai disini!”Ucap Rian yang duduk disebelahku. TAAK. Hatiku kini bertambah patah. Aku hanya bisa menangis sekencang mungkin. Tak tau apa yang terjadi dan setelah itu, Rian benar-benar meninggalkanku. Sendiri. Aku menangis dan menyesal akan diriku sendiri.

Mungkin ini penyebab aku sangat tidak suka dengan hujan..

(Flashback 5 Maret 2007) Aku mengetahui kabar dari rumah sakit bahwa ayah, orang yang paling kusayangi di dunia ini meninggal dunia pada kecelakaan itu. Saat itu, ayah terburu-buru mengantarkanku yang hendak membeli kado ulang tahunku, karena mengendarai motor saat hujan di sore itu. Jas hujan yang dipakai ayah menyangkut pada ban motor yang sedang melaju kencang sehingga motor ayah terpelanting bersama ayah dan diriku. Aku selamat karena tubuhku terpelanting diatas rumput sedangkan ayah terbentur aspal dan mengalami pendarahan hebat. Ya tuhan, aku menangisi semua yang telah terjadi. Hujan! Aku berpikir, dialah penyebab penderitaanku! Aku benci hujan.Seminggu kemudian, aku sudah bisa menerima semua kejadian pahit yang telah kualami. Masa lalu, biarlah yang terdahulu. Dan aku hanya tinggal bersama ibuku. Pahit memang. Dan sulit untuk dijalani. Mulai dari situ, setiap aku melihat hujan aku selalu menyendiri, menangis dan teringat saat kecelakaan itu terjadi.(Flashback Off)

Sore hari di halte kampus..

GLEGAAR..

Suara itu kembali muncul, gemericik air itu kembali membasahi permukaan aspal yang kering. Seperti biasa yang aku lakukan, aku langsung menyendiri di halte, bersandar dan menutupi wajahku dengan jaket Chelsea biru favoritku. Menit demi menit suara hujan makin membesar dan menimbulkan angin yang cukup besar. Tubuhku menggigil kedinginan. Tapi, aku tidak berani menyibak jaket yang menutupi wajahku. Aku benar-benar sangat kedinginan saat itu.Srek.Seseorang menyibak jaket yang menutupi wajahku. Aku berteriak.

“ARGH! Dasar bodoh!”Teriakku sambil kembali menutupi wajahku dengan jaket. Tak peduli siapapun yang berada dihadapanku.

“Maaf ya, aku pikir kamu sakit”Ucapnya. Suara itu terdengar seperti laki-laki.

“Ya jangan kaya gitu dong, gak sopan namanya!”Kataku dengan nada kesal dan masih menutupi wajahku dengan jaket.

“Maaf  banget ya, aku gak tahu. Oh iya kamu suka Chelsea ya?”Tanyanya sambil duduk disebelahku. Aku masih belum tau seperti apa rupa wajahnya.

“Kamu siapa sih? Nanya gak penting banget! Mau ngapain kamu disini!?”Tanyaku dengan jutek.

“Kok malah marah-marah sih? Aku Miko. Wajah kamu jangan ditutupin gitu dong..”Pinta orang yang bernama Miko itu.

“Heh, gak usah nawar ya! Aku gak kenal sama kamu, sana sana!”Aku mencoba menyuruhnya pergi dan tidak menggangguku. Seketika gemericik air pun mulai mereda dan berhenti seketika.

“Oh yaudah, maaf ya kalau aku ganggu”Ucapnya sopan dan sepertinya hendak beranjak pergi. Aku pun sedikit-sedikit membuka jaket yang menutupi wajahku. Terang. Langit sudah tidak segelap sebelumnya. Aroma khas setelah hujan mulai tercium.

“Miko!”Panggilku pada laki-laki yang membelakangiku dan memakai jaket yang sama persis denganku. Laki-laki itu pun menoleh dan tersenyum. Wajahnya tidak seburuk yang kupikir.

“Aku bercanda!”Teriakku ketika dia menoleh. Aku pun baru menyadari bahwa dia adalah teman sekelasku sewaktu SMP.

“Miranda? Kamu Miranda kan?”Tanya Miko sambil mendekatiku dan memastikan bahwa aku benar-benar orang yang dia kenal. Aku seketika mengangguk dan tersenyum senang. Merasa sedang reuni SMP.

“Miko si rapper gagal itu kan?”Tanyaku memastikan dan mengingat bahwa dulu dia bercita-cita menjadi rapper. Tapi gagal. Mendengar itu, Miko tertawa sendiri.

“Haha, gak nyangka ya kita bakal ketemu lagi”Ujar Miko akrab. Aku mengangguk-angguk setuju.

“Oh iya aku traktir café sebrang yuk! Sebagai tanda pertemuan”Ajak Miko, aku pun menyetujuinya karena memang sudah lama sekali kami tidak bertemu.
Setelah itu, aku dan Miko saling bertukar nomor telepon juga alamat rumah dan kami jadi sering pergi bersama.

Sore itu, langit kembali mendung. Aku bersiap di halte kampus dengan jaket Chelsea biruku. Tak sengaja aku bertemu Miko, dia menarik tanganku dan mengajakku menuju café sebrang.Ketika gemericik air itu mulai turun, aku menggeleng dan menolak ajakan Miko. Entah mengapa, hampir setiap sore di bulan ini sering terjadi hujan. Miko menaruh jaket Chelsea yang kupegang di atas kepalaku, dan Miko menarikku lari. Aku tidak bisa menghindar. Jarak halte dan café memang sangat dekat. Kami pun berhasil sampai dan masuk ke dalam café. Aku hanya memesan minuman karena aku sedang tidak berselera untuk makan. Karena aku tidak makan, Miko pun begitu. Kami pun duduk disalah satu bangku.

“Lebih nyesak, ayah meninggal saat aku ulang tahun. Dan sejak kecelakaan itu, aku jadi tidak suka hujan”Curhatku pada Miko ketika dia menanyakan mengapa aku sangat tidak menyukai hujan. Miko mengangguk-angguk tanda mengerti.

“Iya, aku tahu kamu masih trauma”Kata Miko lalu menyedot minumannya.

“Jadi sekarang aku agak kesepian, hanya tinggal bersama ibu”Kataku agak sedih.

“Sudah 5 tahun aku tinggal dengan bibi disini, sudah 5 tahun juga aku tidak bertemu orang tuaku. Orang tuaku tinggal di Solo bersama pekerjaannya..”Kata Miko. Aku menyimak baik-baik ucapannya.

”Tapi kamu gak usah merasa kesepian, aku akan selalu jadi teman kamu, kapan pun yang kamu mau”Lanjut Miko sambil tersenyum, bermaksud memberikanku semangat. Aku ikut tersenyum senang. Senang memiliki teman seperti Miko.

Setelah minumanku dan Miko habis, Miko kembali mengajakku ke suatu tempat. Aku menoleh kearah pintu kaca café yang bening, hujan masih mengguyur kota dengan deras. Aku kembali menggeleng dan menolak ajakan Miko.

“Ikuti kata aku..”Pinta Miko. Aku pun menuruti sambil berjalan menutup pintu café dengan menutup mata, Miko menuntunku.

Diluar café, Miko mengeluarkan sebuah payung agak besar berwarna merah bata dan kami berdua pun terhindar dari hujan.Miko mengajakku ke depan sebuah pasar, kami berteduh disebuah warung.

“Coba lihat mereka..”Tunjuk Miko pada segerombol ojeg payung yang kegirangan saat mendapat pelanggan. Aku memperhatikan mereka dengan seksama pandanganku tidak fokus karena terhalang hujan yang membuatku menutup mata.

“Kalau gak ada hujan, mereka gak akan segirang itu. Kalau gak ada hujan, mereka mau makan apa!?”Ucap Miko sambil melirik kearahku. Aku masih menutup mata.

“Mir, kamu gak akan bisa makan nasi kalau gak ada hujan. Lihat petani, mereka semangat hujan-hujanan demi padi, demi beras. Untuk kamu juga..”Miko melanjutkan perkataannya. Aku masih menutup mataku sambil menggigil kedinginan.

“Itulah resiko seorang ayah, bisa membahagiakan anaknya. Tapi, ayah kamu sudah berusaha keras untuk kamu hanya demi hal kecil. Tuhan sudah menentukan takdirnya, itu yang terbaik buat kamu dan ayahmu. Kamu harus menghargai jerih payahnya, ini semata-mata karena takdir, bukan karena hujan. Ketahuilah, aku bisa membaca bahwa ayahmu begitu menyayangimu..”Ucap Miko.

Tess, air mataku menetes. Aku sangat tersentuh mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Miko. Aku masih menutup mataku.Miko menarik lenganku perlahan, menuju sisi yang berhadapan langsung dengan langit. Sehingga telapak tanganku menyentuh percikan-percikan air hujan.

“Buka mata kamu, Mir..”Ucap Miko. Aku perlahan-lahan membuka mataku dan melihat air disekeliling langit.

“Hujan itu anugerah, kamu harus belajar menghargai hujan, jangan malah membencinya..”Ucap Miko sambil melirik kearahku. Entah kenapa saat itu, ada kejaiban yang membuat mataku tidak tertutup ketika melihat hujan turun.

“Aku ingin jadi salah satu dati tetesan air ini. Karena mereka telah membuat orang-orang bahagia”Ujar Miko sambil tersenyum melihat hujan. Aku ikut tersenyum dan mengangguk.

Seminggu setelah kejadian itu, aku jadi jarang bertemu Miko. Nomor teleponnya sudah tidak aktif. Aku berniat mengunjungi rumahnya utuk mengucapkan terima kasih karena aku sudah tidak lagi takut hujan.

Sesampainya di rumah Miko..

“Selamat siang, ada Miko?”Sapaku pada seorang wanita separuh baya yang berdiri membukakan pintu.

“Miko?”Tanya wanita itu dengan raut wajah sedih. Aku mengangguk senang sekaligus aneh.

“Miko sudah meninggal 3 hari yang lalu..”Aku sangat kaget mendengar jawaban itu, kepalaku seakan dilempari batu besar.

“Hah? Yang benar bu..”Aku pun memastikan, mataku mulai berkaca-kaca.

“Iya, dia meninggal karena sakit. Sebelumnya dia sempat kehujanan dan suhu badannya sangat tinggi. Dia sudah terlalu lemas dan akhirnya meninggal dirumah sakit..”Cerita wanita yang ternyata bibinya itu dengan raut wajah sedih. Aku tak kuasa menahan tangis.

“Kenapa dia gak bilang aku bu?”Tanyaku sambil menangis terisak.

“Dia menyuruh untuk merahasiakan ini dari kamu agar kamu tidak khawatir, makanya handphonenya selalu dimatikan”Kata wanita itu, aku semakin menyesali akan diriku sendiri.

“Boleh antarkan aku ke tempat pemakamannya bu?”Pintaku sangat memohon.

“Miko tidak dimakamkan disini, dia dimakamkan di Solo bersama orangtuanya yang tinggal disana”Hatiku semakin terasa sakit dan pilu mendengar pernyataan itu.

“Yasudah, terima kasih bu”Aku berterima kasih sambil terus menangis dan pulang ke rumah.

Tidak lama, 3 hari setelah aku mendengar kabar itu. Aku sudah bisa menerima semua yang telah terjadi. Pahitnya, Miko meninggal karena hujan. Hm, tidak juga. Kata Miko, semua itu semata-mata karena takdir bukan karena hujan.

Tes..Tes

Sore itu hujan kembali mengguyur kota, perasaanku kini senang. Aku membawa jaket Chelsea biruku, bukan untuk menyendiri di halte. Tapi untuk pergi ke café sebrang. Sejak bertemu Miko, café itu menjadi café faforitku.Aku menegadahkan telapak tanganku dibawah langit, sehingga hujan menyentuh telapak tanganku.

Hujan di sore ini mengingatkanku pada seseorang. Miko. Terima kasih Miko, kamu telah mengajarkanku keindahan hujan. Bagiku, kamu telah menjadi salah satu dari tetesan hujan, karena kamu telah membuatku bahagia.END.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

What's on your mind?