Sabtu, 22 Juni 2013
Rain
Namaku Miranda. Nama itu juga temasuk dalam nama lengkapku. Aku tinggal bersama ibuku. Entah mengapa, orangtuaku memberikanku nama yang begitu sederhana. Dan, orang-orang begitu menyukaiku. Tidak tahu, aku memang terlahir dalam keluarga cukup pandai berteman. Keluargaku selalu mengajariku untuk bersikap sopan, dan ramah. Apa mungkin hal itu yang orang-orang suka dariku?
“Miranda.. Ayo pulang!”Rian terus memaksaku pulang. Ucapan
itu sudah lebih dari 5 kali ia ucapkan. Aku tetap menangis dan terdiam. Rian
semakin kesal melihatku terus menangis.
“Miranda, aku sudah cukup sabar selama ini. Tapi, kamu
gak berubah. Mir, aku capek. Maaf, hubungan kita cukup sampai disini!”Ucap Rian
yang duduk disebelahku. TAAK. Hatiku kini bertambah patah. Aku hanya bisa
menangis sekencang mungkin. Tak tau apa yang terjadi dan setelah itu, Rian
benar-benar meninggalkanku. Sendiri. Aku menangis dan menyesal akan diriku
sendiri.
(Flashback 5 Maret 2007)
Aku mengetahui kabar dari rumah sakit bahwa ayah,
orang yang paling kusayangi di dunia ini meninggal dunia pada kecelakaan itu. Saat
itu, ayah terburu-buru mengantarkanku yang hendak membeli kado ulang tahunku,
karena mengendarai motor saat hujan di sore itu. Jas hujan yang dipakai ayah
menyangkut pada ban motor yang sedang melaju kencang sehingga motor ayah
terpelanting bersama ayah dan diriku. Aku selamat karena tubuhku terpelanting
diatas rumput sedangkan ayah terbentur aspal dan mengalami pendarahan hebat. Ya
tuhan, aku menangisi semua yang telah terjadi. Hujan! Aku berpikir, dialah
penyebab penderitaanku! Aku benci hujan.Seminggu kemudian, aku sudah bisa menerima semua
kejadian pahit yang telah kualami. Masa lalu, biarlah yang terdahulu. Dan aku
hanya tinggal bersama ibuku. Pahit memang. Dan sulit untuk dijalani. Mulai dari
situ, setiap aku melihat hujan aku selalu menyendiri, menangis dan teringat saat
kecelakaan itu terjadi.(Flashback Off)
Sore hari di halte kampus..
Suara itu kembali muncul, gemericik air itu kembali
membasahi permukaan aspal yang kering. Seperti biasa yang aku lakukan, aku
langsung menyendiri di halte, bersandar dan menutupi wajahku dengan jaket
Chelsea biru favoritku. Menit demi menit suara hujan makin membesar dan
menimbulkan angin yang cukup besar. Tubuhku menggigil kedinginan. Tapi, aku
tidak berani menyibak jaket yang menutupi wajahku. Aku benar-benar sangat
kedinginan saat itu.Srek.Seseorang menyibak jaket yang menutupi wajahku. Aku
berteriak.
“ARGH! Dasar bodoh!”Teriakku sambil kembali menutupi
wajahku dengan jaket. Tak peduli siapapun yang berada dihadapanku.
“Maaf ya, aku pikir kamu sakit”Ucapnya. Suara itu
terdengar seperti laki-laki.
“Ya jangan kaya gitu dong, gak sopan namanya!”Kataku
dengan nada kesal dan masih menutupi wajahku dengan jaket.
“Maaf banget
ya, aku gak tahu. Oh iya kamu suka Chelsea ya?”Tanyanya sambil duduk
disebelahku. Aku masih belum tau seperti apa rupa wajahnya.
“Kamu siapa sih? Nanya gak penting banget! Mau
ngapain kamu disini!?”Tanyaku dengan jutek.
“Kok malah marah-marah sih? Aku Miko. Wajah kamu
jangan ditutupin gitu dong..”Pinta orang yang bernama Miko itu.
“Heh, gak usah nawar ya! Aku gak kenal sama kamu,
sana sana!”Aku mencoba menyuruhnya pergi dan tidak menggangguku. Seketika
gemericik air pun mulai mereda dan berhenti seketika.
“Oh yaudah, maaf ya kalau aku ganggu”Ucapnya sopan
dan sepertinya hendak beranjak pergi. Aku pun sedikit-sedikit membuka jaket
yang menutupi wajahku. Terang. Langit sudah tidak segelap sebelumnya. Aroma
khas setelah hujan mulai tercium.
“Miko!”Panggilku pada laki-laki yang membelakangiku
dan memakai jaket yang sama persis denganku. Laki-laki itu pun menoleh dan
tersenyum. Wajahnya tidak seburuk yang kupikir.
“Miranda? Kamu Miranda kan?”Tanya Miko sambil
mendekatiku dan memastikan bahwa aku benar-benar orang yang dia kenal. Aku
seketika mengangguk dan tersenyum senang. Merasa sedang reuni SMP.
“Miko si rapper gagal itu kan?”Tanyaku memastikan
dan mengingat bahwa dulu dia bercita-cita menjadi rapper. Tapi gagal. Mendengar
itu, Miko tertawa sendiri.
“Haha, gak nyangka ya kita bakal ketemu lagi”Ujar
Miko akrab. Aku mengangguk-angguk setuju.
Sore itu, langit kembali mendung. Aku bersiap di
halte kampus dengan jaket Chelsea biruku. Tak sengaja aku bertemu Miko, dia
menarik tanganku dan mengajakku menuju café sebrang.Ketika gemericik air itu mulai turun, aku menggeleng
dan menolak ajakan Miko. Entah mengapa, hampir setiap sore di bulan ini sering
terjadi hujan. Miko menaruh jaket Chelsea yang kupegang di atas kepalaku, dan
Miko menarikku lari. Aku tidak bisa menghindar. Jarak halte dan café memang
sangat dekat. Kami pun berhasil sampai dan masuk ke dalam café. Aku hanya
memesan minuman karena aku sedang tidak berselera untuk makan. Karena aku tidak
makan, Miko pun begitu. Kami pun duduk disalah satu bangku.
“Lebih nyesak, ayah meninggal saat aku ulang tahun.
Dan sejak kecelakaan itu, aku jadi tidak suka hujan”Curhatku pada Miko ketika
dia menanyakan mengapa aku sangat tidak menyukai hujan. Miko mengangguk-angguk
tanda mengerti.
“Jadi sekarang aku agak kesepian, hanya tinggal
bersama ibu”Kataku agak sedih.
“Sudah 5 tahun aku tinggal dengan bibi disini, sudah
5 tahun juga aku tidak bertemu orang tuaku. Orang tuaku tinggal di Solo bersama
pekerjaannya..”Kata Miko. Aku menyimak baik-baik ucapannya.
”Tapi kamu gak usah merasa kesepian, aku akan selalu
jadi teman kamu, kapan pun yang kamu mau”Lanjut Miko sambil tersenyum,
bermaksud memberikanku semangat. Aku ikut tersenyum senang. Senang memiliki
teman seperti Miko.
“Ikuti kata aku..”Pinta Miko. Aku pun menuruti
sambil berjalan menutup pintu café dengan menutup mata, Miko menuntunku.
“Coba lihat mereka..”Tunjuk Miko pada segerombol
ojeg payung yang kegirangan saat mendapat pelanggan. Aku memperhatikan mereka
dengan seksama pandanganku tidak fokus karena terhalang hujan yang membuatku
menutup mata.
“Kalau gak ada hujan, mereka gak akan segirang itu.
Kalau gak ada hujan, mereka mau makan apa!?”Ucap Miko sambil melirik kearahku.
Aku masih menutup mata.
“Mir, kamu gak akan bisa makan nasi kalau gak ada
hujan. Lihat petani, mereka semangat hujan-hujanan demi padi, demi beras. Untuk
kamu juga..”Miko melanjutkan perkataannya. Aku masih menutup mataku sambil
menggigil kedinginan.
“Itulah resiko seorang ayah, bisa membahagiakan
anaknya. Tapi, ayah kamu sudah berusaha keras untuk kamu hanya demi hal kecil.
Tuhan sudah menentukan takdirnya, itu yang terbaik buat kamu dan ayahmu. Kamu
harus menghargai jerih payahnya, ini semata-mata karena takdir, bukan karena
hujan. Ketahuilah, aku bisa membaca bahwa ayahmu begitu menyayangimu..”Ucap
Miko.
“Buka mata kamu, Mir..”Ucap Miko. Aku perlahan-lahan
membuka mataku dan melihat air disekeliling langit.
“Hujan itu anugerah, kamu harus belajar menghargai
hujan, jangan malah membencinya..”Ucap Miko sambil melirik kearahku. Entah
kenapa saat itu, ada kejaiban yang membuat mataku tidak tertutup ketika melihat
hujan turun.
“Aku ingin jadi salah satu dati tetesan air ini.
Karena mereka telah membuat orang-orang bahagia”Ujar Miko sambil tersenyum
melihat hujan. Aku ikut tersenyum dan mengangguk.
Seminggu setelah kejadian itu, aku jadi jarang
bertemu Miko. Nomor teleponnya sudah tidak aktif. Aku berniat mengunjungi
rumahnya utuk mengucapkan terima kasih karena aku sudah tidak lagi takut hujan.
Sesampainya di rumah Miko..
“Selamat siang, ada Miko?”Sapaku pada seorang wanita
separuh baya yang berdiri membukakan pintu.
“Miko?”Tanya wanita itu dengan raut wajah sedih. Aku
mengangguk senang sekaligus aneh.
“Miko sudah meninggal 3 hari yang lalu..”Aku sangat
kaget mendengar jawaban itu, kepalaku seakan dilempari batu besar.
“Hah? Yang benar bu..”Aku pun memastikan, mataku
mulai berkaca-kaca.
“Iya, dia meninggal karena sakit. Sebelumnya dia
sempat kehujanan dan suhu badannya sangat tinggi. Dia sudah terlalu lemas dan
akhirnya meninggal dirumah sakit..”Cerita wanita yang ternyata bibinya itu
dengan raut wajah sedih. Aku tak kuasa menahan tangis.
“Kenapa dia gak bilang aku bu?”Tanyaku sambil
menangis terisak.
“Dia menyuruh untuk merahasiakan ini dari kamu agar
kamu tidak khawatir, makanya handphonenya selalu dimatikan”Kata wanita itu, aku
semakin menyesali akan diriku sendiri.
“Boleh antarkan aku ke tempat pemakamannya
bu?”Pintaku sangat memohon.
“Miko tidak dimakamkan disini, dia dimakamkan di
Solo bersama orangtuanya yang tinggal disana”Hatiku semakin terasa sakit dan
pilu mendengar pernyataan itu.
“Yasudah, terima kasih bu”Aku berterima kasih sambil
terus menangis dan pulang ke rumah.
Tidak lama, 3 hari setelah aku mendengar kabar itu.
Aku sudah bisa menerima semua yang telah terjadi. Pahitnya, Miko meninggal
karena hujan. Hm, tidak juga. Kata Miko, semua itu semata-mata karena takdir
bukan karena hujan.
Sore itu hujan kembali mengguyur kota, perasaanku kini senang. Aku membawa jaket Chelsea biruku, bukan untuk menyendiri di halte. Tapi untuk pergi ke café sebrang. Sejak bertemu Miko, café itu menjadi café faforitku.Aku menegadahkan telapak tanganku dibawah langit, sehingga hujan menyentuh telapak tanganku.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
What's on your mind?