Rabu, 19 September 2012

Lady Gaga - You and i

It's been a long time since I came around
Been a long time but I'm back in town
This time I'm not leaving without you
You taste like whiskey when you kiss me, oh
I'd give anything again to be your baby doll
This time I'm not leaving without you

You said sit back down where you belong
In the corner of my bar with your high heels on
Sit back down on the couch where we
Made love the first time and you said to me this

Something, something about this place
Something 'bout lonely nights and my lipstick on your face
Something, something about my cool Nebraska guy
Yeah something about, baby, you and I

It's been two years since I let you go,
I couldn't listen to a joke or rock 'n roll
Muscle cars drove a truck right through my heart
On my birthday you sang me a heart of gold
With a guitar humming and no clothes
This time I'm not leaving without you
Ooh-oh ooh-oh

Sit back down where you belong
In the corner of my bar with your high heels on
Sit back down on the couch where we
Made love the first time and you said to me this

Something, something about this place
Something 'bout lonely nights and my lipstick on your face
Something, something about my cool Nebraska guy
Yeah something about, baby, you and I

You and I
You, you and I
You, you and I
You, you and I, I
You and I
You, you and I
Oh yeah!
I'd rather die
Without you and I

C'mon!
Put your drinks up!

We got a whole lot of money, but we still pay rent
'Cause you can't buy a house in Heaven
There's only three men that I'm a serve my whole life
It's my daddy and Nebraska and Jesus Christ

Something, something about the chase
Six whole years
I'm a New York woman, born to run you down
So have my lipstick all over your face
Something, something about just knowing when it's right
So put your drinks up for Nebraska
For Nebraska, Nebraska, I love you

You and I
You, you and I
Baby, I rather die
 Without you and I

You and I
You, you and I
Nebraska, I rather die
Without you and I

It's been a long time since I came around
Been a long time but I'm back in town
This time I'm not leaving without you.

A little kindness

Visit/follow:
Nadhirafrz.blogspot.com (http://twitter.com//nadhirafr)
Ahinoora321.blogspot.com (http://twitter.com//ahi_noora)
alfayunifirdazahra.blogspot.com (http://twitter.com//firdaalfa07)
dindinaachsanti.blogspot.com (http://twitter.com//dinaachsnti)
ainunsamudera.blogspot.com (http://twitter.com//ainunsa)

Senin, 17 September 2012

Gang Anggrek (Short story)



     Kamis menjelang sore, kumulai lembaran kenangan yang tersimpan dahulu di sebuah sekolah menengah pertama. Ku kenang manis senyuman pagi, yang kini terselip duka. Memori-memori indah bersamanya dulu yang diakhiri dengan kalimat-kalimat perpisahan yang menggetarkan hati. Sosok pahlawan pendidikan yang tak asing di mataku, kini harus menghapus jejaknya dari tembok hijau itu.

Annoying Andrew (Serialize 1)



     Namaku Florencia McBass. Atau lebih tepatnya Flo.Aku berasal dari United States of America.Maka dari itu agar aku lebih mencintai tanah airku, aku gemar mengoleksi miniatur patung Liberty.

Nadnad's birthday

Hari ini ulang tahunnya Nadhira Firuzia Jasmine. Seru banget dikerjain abis-abisan, hampir nangis hahahahaha. Dibeliin tart eh akhir-akhirnya dibagi-bagi masing-masing hahaha thanks a lot ya AW sama rootbeer yang iyuh nya. Semoga panjang umur, tambah pinter, dan .......... ya. Thanks for today: Nadhira FJ, Dina A, Ahi Noora, Aulianisa W, Primadita, Annisa K.
Visit yang ultah juga: Xtraordinary-nadnad.blogspot.com   :p

Minggu, 16 September 2012

SLOW But Painful (Short story)

Sebenernya iseng aja sih bikin cerita kaya gini, juga disini gak terlalu dideskripsi secara detail kejadian-kejadian kriminalnya, saya juga ngeri deskripsiinnya hehe. Saya baru pemula bikin cerita kriminal jadi mungkin masih jelek ya hahaha.


  “William, sepertinya kamu senang bekerja disini”Ucap Scott sang pemilik toko sambil tersenyum dan memperhatikan William, karyawan baru yang sedang memanggang kue. Kue buatannya memang banyak disukai pelanggan toko kue itu, selain dibuat dari bahan-bahan yang berkualitas, kue di toko itu khususnya buatan William dan baker-baker pro lainnya, memang sangat lezat. William dan Wodie memang baker terfaforit di toko itu. Karyawan toko itu memang terseleksi, jadi walaupun William adalah karyawan baru, dia sudah profesional. Sayangnya, toko kue yang khusus untuk kue coklat super mewah yang selalu dipenuhi pelanggan itu tak memiliki nama yang pasti, sang pemilik toko memperbolehkan semua orang untuk menyebut toko itu dengan nama apapun. Entah mengapa. Itu menjadi alasan tersendiri bagi sang pemilik toko.
“Aku memang sangat senang bekerja disini”Jawab William. Wodie melihat kearahnya sambil tersenyum.
“Bagus kalau begitu”Scott menepuk-nepuk bahu William sambil tertawa senang. William mematikan oven dan mengeluarkan kue yang hampir sempurna dari dalamnya. Sedangkan Wodie yang sedari tadi menghias kue buatannya dengan parutan keju dan selai coklat, tersenyum senang karena kue buatannya telah jadi dengan sempurna. Sedangkan baker lain sibuk membuat adonan dan pekerjaan-pekerjaan lainnya. Scott memperhatikan apa yang mereka lakukan sambil tersenyum, merasa bisnis toko kue nya telah berhasil.
“Oh iya!”Seru William sambil merongoh kantong jas nya dan mengambil secarik kertas.
“Perhatikan! Kita punya pesanan 450 buah cupcake coklat untuk 3 hari kedepan, yaitu tanggal…hmm.. 13! Pemesan akan mengambilnya kesini.” Lanjut Scott sambil membaca isi kertas tersebut. Semua baker memperhatikan Scott sambil mencerna ucapannya lalu mereka semua mengangguk tanda mengerti.
“Karena pemesan kue berani membayar lebih, kalian semua juga harus bekerja lebih keras lagi. Maka, khusus bagi para baker, kalian semua lembur sampai pekerjaan selesai!”Perintah Scott.
“Apakah tuan juga akan ikut lembur bersama kami?”Tanya Oxel pada Scott.
“Jelas tidak! Hey, dengar. Aku membayar kalian untuk bekerja, bukan untuk aku menemani kalian kesusahan. Kesuksesan itu miliku bukan milik KALIAN!”Ujar Scott dengan angkuhnya. Semua baker menunduk mendengar ucapan Scott.
“A..Apa tuan tidak membutuhkan manager untuk menjaga toko selagi kami bekerja?”Wodie mengangkat kepala takut-takut. 3 baker lainnya melirik kearah Wodie.
“Aku tidak memerlukan manager! Ini tokoku. Aku sendiri pun bisa menjaga tokoku tanpa seorang manager!!”Kata Scott. Wodie kembali menunduk.
“Tapi tuan, kami hanya 4 orang. Tidak mudah membuat kue sebanyak itu selama 3 hari. Apakah tuan tidak mencoba memanggil pekerja sampingan?”Usul Mary. 3 baker lain mengangguk setuju. Namun, hal itu membuat pemilik toko yang keji itu semakin naik darah.
“SEKALI LAGI… AKU MEMBAYAR KALIAN UNTUK BEKERJA! Kalian tidak berhak mengaturku semaunya. Aku sudah mempercayai baker profesional seperti kalian, mana mungkin aku asal memanggil baker serampangan yang belum tentu kue buatannya berkualitas! Sudah. Kerjakan tugas kalian malam ini, kalian tidak boleh tidur semalaman!”Kata Scott panjang lebar. Hal itu membuat para baker melemas.
“Oxel! Beritahu aku bila ada yang melanggar peraturan ini. Tak akan kuberi gaji! Oxel, kupercayakan padamu!”Scott menepuk bahu Oxel dan berlalu pergi meninggalkan dapur.
9:30 p.m
Semua karyawan toko kue itu sudah pulang kecuali para baker. Saat itu pula Scott kembali ke dapur dan kembali mengancam mereka dengan ucapan-ucapan yang khas. Tak ada puasnya dia mengucapkan itu. Memang menyakitkan.                                                    Setelah Scott dan karyawan lain meninggalkan para baker, mereka pun kembali sibuk bekerja. Pukul  11:50 a.m Setelah membuat lebih dari 50 kue, William merasakan rasa kantuk yang amat sangat dia pun memutuskan untuk mencuci muka. Kamar mandi pelanggan toko kue itu memang sangat mewah, namun sebaliknya. Kamar mandi khusus karyawan, jauh lebih buruk dari tempat pembuangan barang bekas.
William membuka keran dan merasakan sentuhan air dingin di tangannya dan segera membasuh wajahnya. Drug..Drug..Drug sebuah jendela kayu kecil yang menghubungkan antara kamar mandi dan gang kecil di sebelah toko yang tertutup rapat itu menimbulkan suara, seperti ada seseorang yang berusaha membukanya. William mengalihkan pandangannya pada jendela tersebut. Seketika suara tersebut berhenti sejenak.. Ketika William tidak menghiraukannya, suara itu semakin kencang dan membuat William penasaran.
“Siapa disana?”Tanya William sambil mendekati jendela tersebut. Namun, suara itu kembali berhenti.
“Tolong jangan mengerjaiku!”Sentak William.
“Ini paman..”Suara itu muncul dari sela-sela kayu jendela itu. William tersentak kaget. Dia memang tidak bisa melihat orang tersebut, namun dia mengenali suaranya.
“PAMAN!? Paman mau apa? Jangan macam-macam denganku!”Teriak William sambil mendorong jendela kayu yang memang tidak dapat dibuka sehingga menimbulkan suara yang cukup keras. Tiba-tiba Wodie dan Oxel berlari menuju kamar mandi tempat William berada dan mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi William.
“William, ada apa denganmu?”Tanya Wodie khawatir. William segera membukakan pintu kamar mandi dan melihat wajah Wodie yang khawatir dan Oxel yang menaikan alis sambil menyilangkan tangan di dadanya dan mengetuk-ngetukan kakinya di lantai.
“Aku tidak ada apa-apa, Wodie. Hanya ada sedikit hal yang menganggu”Jawab William.
“Apakah itu salah satu dari alasanmu untuk tidur di kamar mandi?”Interogasi Oxel dengan sinisnya. William menggeleng cepat.
“Aku hanya sedikit mengantuk dan membasuh wajahku, itu saja.”Katanya jujur.
“Hanya itu? Kudengar kamu berteriak keras”Tatapan Oxel semakin sinis membuat seseorang yang melihatnya serasa ingin mencolok matanya.
“Pamanku datang padaku, dan aku hanya tidak ingin terjadi apa-apa denganku. Cukup?”Jawab William yang mulai kesal dengan tingkah Oxel.
“Hmm.. Maaf, aku harus melanjutkan pekerjaanku. Permisi..”Ucap Wodie sambil tersenyum dan meninggalkan William dan Oxel. Pembicaraan William dan Oxel terpotong sejenak, setelah Wodie tak terlihat lagi, mereka melanjutkan pembicaraan sengit itu.
“Seberapa buruk kah pamanmu sehingga kamu mencurigai pamanmu akan memutilasi tubuhmu? Mustahil!”Kata Oxel mencibir.
“Hey, asal kamu tau. Aku pekerja baru, dan kamu tidak tau apa-apa soal hidupku! Pamanku seorang psikopat yang sakit jiwa! Dia bisa menghabiskan nyawaku dan orang lain, sekali pun lelaki udik sepertimu!”Kata William.
“Hahaha pernah ku dengar kata-kata itu dalam sebuah FILM. Psikopat tidak pernah ada! Sekali pun ada, aku dulu yang akan mencincang-cincang dagingnya dan ku jadikan kue di toko ini hahahaha”Ledek Oxel sambil tertawa keras menganggap ucapan William adalah sebuah omong kosong.
“Tidak ada gunanya berbicara dengan orang bodoh sepertimu.” Kata William sambil mendorong bahu Oxel dan pergi menuju dapur dan meninggalkannya.
Esoknya…
“Apa kita benar-benar tidak boleh tidur?”Tanya Mary lemas sambil menghias cupcake dengan taburan kismis. Oxel menggeleng cepat.
“Tidak boleh! Sampai besok pagi!”Ucap Oxel. Sebenarnya dia juga sudah mulai mengantuk.
“Sebentar lagi toko di buka, pekerjaan kita akan bertambah..”Ucap  Wodie yang sedang mencampurkan adonan.
KRINGGG…KRINGGG….
Seketika telepon di toko itu berbunyi, Karyawan di luar dapur memang biasanya datang 1 jam lagi. Jadi tidak ada karyawan lain yang bertugas mengangkat telepon pagi itu. Wodie meninggalkan pekerjaannya dan berlari mengangkat telepon.
“Selamat pagi. Ada yang bisa kami bantu?”sapa Wodie.
William dan Mary mendengarkan ucapan Wodie di telepon. Namun Oxel tidak menghiraukan dan sibuk dengan pekerjaannya sambil terus menguap menahan kantuk.
“Siapa yang menelpon di pagi buta seperti ini?”Tanya William heran.
Seketika itu raut wajah Wodie berubah menjadi aneh, seperti tak mengerti apa yang di ucapkan penelpon.
“William…”Panggil Wodie sambil menjauhkan gagang telepon dari telinganya.
“Telepon dari siapa, Wodie?”Tanya William. Wodie menggeleng.
“Dia terus menerus memanggil namamu, William. Mungkin dia ingin berbicara denganmu…”Ucap Wodie sambil mengerutkan kening dan mengarahkan gagang telepon itu pada William. William merasa aneh dan penasaran lalu segera meraih gagang telepon itu dari tangan Wodie.
“Halo.. aku William. William Mayer, anda mencariku?”Sapa William dengan ramah.
“Aku butuh organ tubuh manusia yang segar..”Ucap sang penelpon.
“M..Ma..Maaf i..ini toko k..kue”Jawab William gugup sambil terus melirik kearah Wodie.
“William! Aku butuh organ tubuh manusia yang segar”Sang penelpon mengulang kembali ucapannya kali ini menyebut nama William, sehingga dia tau siapa penelpon itu.
“Apa yang paman inginkan!?Jangan ganggu kehidupanku, kamu sudah banyak merengut nyawa orang-orang yang kusayang!”Sentakku. Sontak semua baker melihat kearahku.
“Apa kau kenal dia, William?”Tanya Wodie. Namun William tidak memperhatikannya.
“Sebentar lagi aku menuju kediaman ayah, ibu, dan kedua adikmu..”Kata sang penelpon sambil tertawa renyah.
“MAU APA KAMU?”Tanya William gusar. Kini Oxel pun ikut memperhatikan William. Jarak telepon dengan dapur memang cukup dekat.
“Aku butuh organ tubuh manusia yang segar..”Ucap penelpon terakhir kalinya sebelum menutup telepon.
“Halo? Hey jangan macam-macam!! HALO!??”BRAAK. William membanting gagang telepon itu ke tempat asalnya.
“SIALAN!!!!!”Teriaknya keras sambil mengacak-acak rambutnya. Para baker yang tidak tahu menahu hanya memperhatikannya sambil terus bekerja. Wodie dan Mary tak berani bertanya apapun pada William. Sedangkan Oxel hanya mencibir.
“Telepon…telepon!”William kembali mengangkat gagang telepon sambil memencet cepat tombol-tombol angka pada telepon tersebut. BRAAK! Dan, yang kedua kalinya ia membanting gagang telepon itu.
“SIAALLLL!!!!!”Amarah William meledak ketika ingat bahwa telepon di rumahnya rusak dan handphone nya tertinggal di rumah.
“Aku harus pulang sebelum psikopat gila itu mengambil organ-organ ayah,ibu,dan adik-adikku..”Gumam William sambil mengepalkan tangannya dengan erat. William kembali menuju dapur dengan cepat. Dan dengan cepat pula ia membereskan tasnya. Semuanya melihat apa yang di lakukan William.
“Ada apa, William?”Tanya Mary.
“Aku harus pulang, psikopat itu menuju rumahku! Aku harus menyelamatkan keluargaku secepatnya”Kata William sambil menutup resleting tas nya.
“Tidak bisa! Kamu tidak boleh melanggar peraturan!”Sela Oxel.
“Ini masalah nyawa. Apa kamu akan bertanggung jawab bila semuanya benar-benar terjadi!?”Sentak William sambil mengendong tas nya.
JDAAAG.. Oxel menonjok wajah William hingga membiru dan meremas kedua kerah baju William dengan satu tangannya.
“SUDAH KUBILANG!! Psikopat itu hanya ada dalam film. Buktikan bila itu nyata! MUSTAHIL!”Sentak Oxel. Setelah berkata seperti itu Oxel melepaskan kedua kerah William.
“Ada apa teriak-teriak!?”Sentak Scott yang tiba-tiba berada di pintu dapur. Wodie melihat jam tangannya. Setengah jam lagi toko di buka,  ini memang sudah jadwalnya Scott berada disini.
“William Mayer memaksa hendak pulang, aku sudah melarangnya. Dia tetap memaksa dan menyentakku”Adu Oxel. Dia seperti sangat bahagia sudah mengadukan William pada Scott. Scott menatap tajam kearah William..
“Oxel, tahan dia!”Perintah Scott. Oxel pun segera menahan kedua tangan William sehingga William tidak bisa lari dari keadaan itu.
“Lepaskan!!”Teriak William sambil mencoba melepaskan tangannya. Gagal.
“Ada perlu apa kamu pulang?”Tanya Scott melihat William dari kepala sampai kaki.
“Pamanku akan membunuh ayah, ibu, dan adik-adikku. Aku harus segera menyelamatkan mereka!!”Ujar William  gusar.
“Hmm… siapa nama pamanmu?”Tanya Scott memulai basa-basi busuknya.
“Lodda Pietcon. Seorang psikopat yang membahayakan. Cukup? Aku ingin segera pulang. Kalau perlu, aku mengundurkan diri dari pekerjaan ini”Jawab William kesal.
“Entahlah, aku tidak kenal dia”Ucap Scott sambil mengarahkan diri pada peralatan dapur dan mengambil sebilah pisau dan kembali menuju kediaman William.
“Ini balasan untuk orang yang hampir menghancurkan kesuksesanku….”Ucap Scott sambil menggoreskan pisau itu ke pipi William hingga darah mengalir dari pipi yang tergores itu. Wodie dan Mary hanya terdiam melihat kejadian itu. Mereka takut terjadi sesuatu pada William setelah Scott melakukan itu.
“Kurang ajar!!”DUGG… William menyikut perut Oxel sehingga tangannya terlepas dari tangan Oxel yang sibuk kesakitan bersama perutnya. William menghapus noda darah yang ada di pipi nya.
“Siapa yang menyuruhmu bekerja di toko kue ku? Hahahaha”Scott tertawa keras. William menatap Scott dengan penuh dendam dan berlari membawa tas nya untuk menyelamatkan keluarganya di rumah.
“Kembalilah kemari setelah keluargamu mati… Hahahahahaaha”Scott kembali tertawa puas melihat perginya William.
(Di rumah William)
BRAAAKKK…..
William mendobrak pintu gudang di rumahnya dan menemukan jasad-jasad ayah, ibu, dan adik-adiknya yang tanpa nyawa dan…. tanpa organ tubuh yang lengkap (mata, ginjal, dan hati) William benar-benar menyesali semua yang telah terjadi. Dia menangisi kematian keluarganya.
“TEGANYA DIA MEMBUNUH KAKAK KANDUNGNYA SENDIRI!! LAKNAT!!”Teriak William sambil menghapus air matanya.
William menggali tanah yang agak lebar di samping rumahnya, ia pun menguburkan jasad keempat keluarganya sambil merasakan sakit hati yang teramat dalam, hanya dibalutkan kain seprei, ia pun menguburkan keempat keluarganya. Sayangnya, saat itu dia tidak menemukan pamannya, Lodda. Sehingga dendam itu belum terbalaskan. Sesuai yang dikatakan Scott, William pun kembali ke toko kue itu.
(Toko kue)
“Kembali juga kau!! Bagaimana keluargamu? Semua yang kau pikirkan mustahil terjadi!!”Sambut Scott dengan semburan omongannya.
“….Semua keluargaku meninggal!!”Ujar William dengan wajah datar, Wodie terus mengintip apa yang terjadi dengan William dan Scott dari lorong dapur. Scott terlihat sedikit kaget mendengarnya.
“Oh.. Sepertinya kamu sudah ikhlas menerimanya. Hmm, sudahlah kembali bekerja!”Perintah Scott.
“Sebelumnya, aku ada perlu sebentar denganmu, tuan  Hmm… masalah, tawaran satu set meja makan secara gratis”Ucap William.
“Gratis katamu!? Ok, kita berbicara dimana?”Tanya Scott dengan mata berbinar.
“Hmm.. di gang sebelah toko saja, disana ada kursi yang nyaman..”Jawab William masih dengan wajah datar.
Scott lalu mengikuti William ke gang sebelah toko, dekat jendela kayu di kamar mandi dekat dapur. Wodie terus memperhatikan mereka, sayangnya, ia tidak bisa mengikuti Scott dan William setelah itu.
“Apa yang bisa aku lakukan untuk satu set meja makan gratis itu, William?”Tanya  Scott. William hanya diam berdiri dengan tatapan kosong.
“Hey, kamu bilang ada kursi yang nyaman? Disini tidak ada kursi. Mengapa tidak di ruanganku saja sih? Lebih nyaman dan mewah!”Kata Scott sambil melihat sana-sini.
“Maaf.”William hanya menjawab singkat sambil mencari sesuatu di bawahnya.
“Jadi, apa yang bisa aku lakukan untuk satu set meja makan gratis itu?”Scott mengulang pertanyaannya.
“Hmm… tuan harus…..”
PAAAKK…
William mengambil sebuah batu besar di dekat kakinya dan menimpanya kearah bahu Scott sehingga Scott tak sadarkan diri.
CRAAK..
William mengeluarkan sebuah pisau lipat dari ranselnya. William mengambil sebuah kantong plastik hitam besar dan menaruhnya di tanah. William mulai mengambil organ-organ tubuh Scott dengan pisaunya dengan perlahan-lahan dan menaruh organ-organ itu dalam plastik hitam. Darah Scott berceceran, Scott sudah tidak bernyawa. William membiarkan mayat Scott terbaring disana. Sebelumnya, Scott menggoreskan kata SLOW di lengan kanan Scott dengan pisaunya. Orang-orang yang melihat kejadian itu tentu merasa jijik.
“Aku bukan dokter bedah tapi dia harus rasakan apa yang keluargaku rasakan. SLOW. Perlahan.. namun menyakitkan. Hahahaha”Tawanya memasukan pisau lipatnya kedalam kantong celananya sambil melihat mayat Scott yang tanpa organ dan membawa plastik hitam itu ke tempat sampah belakang toko dan membakar plastik hitam itu beserta isinya sambil tertawa puas.
“Bodoh! Mengapa kau membakar organ-organ itu!? Kau bisa mendapatkan apa yang kau inginkan dengan menjual organ-organ itu!”Lodda Pietcon yang tiba-tiba datang di dekat tempat sampah belakang toko. Sontak William melihat kearahnya dengan tatapan dendam. William mengambil pisau lipatnya di dalam kantong celananya dan menyembunyikannya dibalik punggungnya. William menyembunyikan tatapan dendamnya dengan sebuah senyuman.
“Kebetulan aku bertemu denganmu. Maafkan aku paman, aku akan turuti semua maumu…”Ucap William seraya berakting memeluk pamannya dan JLEBB. Pisau lipat itu tertusuk di perut kanan Lodda Pietcon sehingga ia jatuh melemah. William melakukan hal yang ia lakukan pada Scott pada pamannya. Tak lupa ia memasukan organ-organ Lodda kedalam kantong plastik hitam dan membakarnya. Dan menggoreskan kata SLOW di lengan kanan Lodda.
“Aku bukan dokter bedah, tapi dia harus rasakan apa yang keluargaku rasakan. SLOW. Perlahan.. namun menyakitkan. Hahahaha”William kembali mengulang ucapannya sebelum akhirnya meninggalkan mayat Lodda Pietcon dan kembali ke dapur.
William mencuci tangan di wastafel kamar mandi untuk menghilangkan noda darah pada tangannya.
“Noda apa itu?”Tanya Wodie yang tiba-tiba berada di pintu kamar mandi yang tidak tertutup melihat noda merah di lengan kiri William. DEG. William merasa degdegan dan mencari alasan yang tepat.
“Tadi aku baru mengecat tembok gang sebelah…. Ups, maksudku pagar rumah sebelah. Seorang penghuni rumah memintaku untuk mengecat pagarnya.”Ucap William berbohong sambil mencipratkan noda itu dengan air sehingga noda darah itu hilang. Kebetulan, cat pagar rumah sebelah memang berwarna merah. Wodie mengendus-endus.
“Seperti bau amis…”Wodie masuk ke kamar mandi sambil memperjelas aroma bau amis yang tercium. William yang sudah selesai membersihkan tangan langsung berpura-pura membasuh wajah.

“Mungkin tikus mati? Atau hanya hidungmu saja yang sedang flu mungkin”William berpura-pura mencari tikus mati di sekitar kamar mandi.
“Hmm? Sudahlah! Kembali bekerja, nanti kamu dimarahi Tuan Scott”Kata Wodie kembali ke dapur meninggalkan William.
“Scott sudah pulang sejak tadi karena ada urusan!”Kata William berusaha menutupi semua kejadian tadi.
Esoknya..
Jasad Scott dan Lodda di temukan oleh warga sekitar. Warga tidak mengenali Lodda, namun mereka mengenali Scott karena memang toko kue coklat miliknya yang sudah terkenal. Semua karyawan toko kue termasuk William melihat kejadian itu. Saat itu banyak kawanan polisi, kawanan wartawan dan paparazzi, sebuah mobil ambulans, juga beberapa keluarga Scott pun hadir. William berpura-pura kaget melihat hal itu.
“Oh! Dia pamanku! Lodda Pietcon! Oh.. paman, mengapa bisa seperti ini?”Tunjuk William pada mayat Lodda yang kini berada di samping mayat Scott sambil berpura-pura sedih. Kawanan polisi meneliti mayat Lodda dan melihat mayat Lodda dengan kondisi yang sama dengan mayat Scott, tanpa organ. Wodie melihat curiga kearah William. Wodie menghampiri mayat Lodda dan melihat sebuah keganjilan.
“Permisi pak…”Wodie mengucapkan kata permisi pada polisi yang meneliti mayat Lodda. Wodie mengangkat lengan kanan Lodda dan melihat sebuah goresan sebelum akhirnya ia kembali berdiri.
“Kedua mayat ini memiliki beberapa kejanggalan. Mayat Scott dan Lodda meninggal dengan keadaan yang sama, tanpa organ. Jarak mayat Scott dan Lodda tidak terlalu jauh. Dan di lengan kanan mereka sama-sama tergores kata ‘SLOW’ sudah jelas,  tersangka hanya satu orang dan… tak jauh dari sini!”Wodie berusaha menyindir William. Sebenarnya Wodie sudah meneliti gerak-gerik William yang mencurigakan dan cat pagar rumah sebelah.
Semua orang memperhatikan Wodie, termasuk para wartawan dan paparazzi.
“Baiklah, kedua mayat ini harus diteliti lebih lanjut, saya mencatat anda sebagai keluarga dari Lodda Pietcon. Siapa namamu?”Tanya salah satu polisi sambil menuliskan sesuatu disebuah buku hitam kecil.
“William Mayer”Jawab William, hatinya mulai tak tenang. Dia mulai mencurigai Wodie yang sudah tau apa yang sudah dilakukannya.
“William Mayer. Nomor telepon?”Tanya seorang polisi kembali menuliskan nama William pada bukunya.
“081234567899”Jawab William sembari polisi itu mencatat nomornya.
“Kami akan segera menghubungi anda. Terima kasih!”Polisi itu menyalami William sebelum akhirnya meninggalkan toko kue dan membawa dan memasukan kedua mayat itu kedalam ambulans.
Toko kue pun di liburkan untuk sementara, sedangkan para baker yang masih sibuk mengurusi pesanan cupcake kemarin, tetap berada di dapur. Sebelumnya, para baker di izinkan untuk beristirahat/tidur selama beberapa jam sebelum akhirnya mulai bekerja.
“Hmm.. kudengar tidak ada yang mengecat pagar rumah sebelah”Ucap Wodie pada William yang sedang berusaha membuka kaleng selai coklat dengan sebuah pisau. Mary dan Oxel melihat kearah mereka berusaha untuk mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.
“Mungkin kamu salah dengar..”Sela William sedikit deg-degan.
“Hey, aku melihatnya sendiri. Cat pagar rumah itu memang berwarna merah, namun merah yang lama dengan merah yang baru di cat itu sangat jauh berbeda!”Wodie berusaha memojoki William dengan kata-katanya.
“Kalau aku memang tidak mengecat pagar itu, memang kenapa? Masalahmu?”Tanya William datar sambil terus mencoba membuka tutup kaleng yang belum juga terbuka.
“Oh, jadi kau yang membunuh Scott dan pamanmu sendiri?”Tanya Wodie berbisik pada William dengan nada sinis. Berusaha agar Mary dan Oxel tidak mendengarnya.
“Kalau masalah itu aku tak tau apa-apa!”Sela William, perasaannya mulai tak karuan.
“Aku tau, kamu sangat membenci Scott karena dia yang menyita waktumu untuk segera menyelamatkan keluargamu dan kamu adalah orang terakhir yang bersamanya kemarin . Dan tanpa berpikir juga aku tau kamu sangat membenci pamanmu yang telah membunuh keluargamu. Dengan itu, kamu memiliki dendam pada mereka dan rela membunuh mereka demi dendammu yang belum terbalaskan. Dan sekarang, kamu sudah puas telah membalas mereka?”Wodie berbisik dan menguak semuanya.
“Pemikiranmu salah! Aku tidak melakukan itu!”Ucap William.
“Mengakulah bila dirimu bukan pecundang, dan sebelum keluarga Scott menuntutmu hukuman mati!”Wodie berbisik agak keras. Mary dan Oxel yang tak tahu menahu hanya sibuk dengan pekerjaan mereka dan tidak mencampuri urusan William-Wodie.
TAAKK..
“APA MAKSUDMU!?”William mengetukan pisau yang dipegangnya dengan keras diatas meja tempatnya sekarang. Wodie yang mulai takut sedikit menjaga jarak dengan William.
“Mengakulah dihadapan kami, William!”Kali ini Wodie meneriakkan kalimat itu, selagi para karwayan selain mereka telah pulang terlebih dahulu, para baker adalah orang-orang paling terpercaya di toko itu.
Sontak Mary dan Oxel melihat kearah William dan Wodie. Setelah kepergian Scott yang secara mengenaskan, Oxel tak lagi banyak berbicara. Maklum, dia adalah karyawan terdekat Scott, selain mendapat gaji terbesar (walaupun kue buatannya tak seenak William & Wodie) Ia juga sudah dianggap sebagai ketua dari pekerja dapur/baker, karena Oxel yang paling suka mengatur, memaksa, dan memerintah dengan kasar sekalipun.
“BAIKLAH! HEY, DENGAR SEMUA..AKU MENGAKU, AKULAH YANG MEMBUNUH SCOTT DAN LODDA!”Teriak William di hadapan Wodie, mary, dan Oxel. Sontak ketiga orang itu kaget. Sangat kaget.
“Y..Yeah k..kamu bukan p..pecundang!”Ucap Wodie, takut bila William melakukan suatu hal mengerikan padanya.
“KURANG AJAR!”Teriak Oxel sambil meremas kerah baju William. William menatap Oxel dengan tajam.
“KURANG AJAR KAU MEMBUNUH SCOTT! SIAPA LAGI YANG AKAN MENGGAJIKU DENGAN GAJI TINGGI? AKU DAN KELUARGAKU SEDANG MEMBUTUHKAN UANG UNTUK MENYEWA TEMPAT TINGGAL BARU! APA KAU MAU MEMBERIKAN SEMUA UANG KELUARGAMU UNTUKKU, HAH!?”Teriak Oxel dengan penuh amarah.
“KAU HANYA MENGUNTUNGKAN DIRI SENDIRI. Silahkan saja!! Ambil semua harta keluargaku semaumu!! Keluargaku sudah tidak membutuhkannya!! Mereka sudah MATI!!!!!!”William membalas perkataan Oxel.
“Harusnya kau yang MENGUNTUNGKAN DIRI SENDIRI!! Keluargamu mati? Hahaha… Karena psikopat itu? Lelucon yang garing bila jawabanmu adalah YA.”Kata-kata itu semakin membuat William geram. Mary dan Wodie melihat pertengkaran itu dengan rasa takut.
“Akan kubuktikan padamu bahwa psikopat itu ada…”Ucap William.
“SILAHKAN.”Mungkin kalimat itu adalah kalimat terakhir Oxel setelah pisau yang di pegang William itu menusuk perut bagian kanannya dan Oxel pun lemah tak berdaya dengan tangannya yang mulai terlepas dari kerah baju William.
“WILLIAM, KAU…………”Teriak Mary dengan wajah yang ingin menangis melihat itu.
“Diamlah, jika kamu tidak mau menjadi salah satu dari ini!!”Ujar William. Wodie berlari kearah Mary dan berusaha melindunginya.
William mencabut pisau itu dari tubuh Oxel, William pun melakukan hal yang sama dengan hal yang ia lakukan pada Scott dan Lodda pada Oxel. Mary hanya menangis sambil menutup mata melihat semua kejadian itu. Sebelumnya, ia mengambil plastik hitam di dapur. Ia tidak mengambil banyak, hanya organ mata dan hati dan memasukannya kedalam plastik hitam sebelum akhirnya membuang dan membakarnya. Tak lupa William menggoreskan kata SLOW pada lengan kanan Oxel. Dapur itu pun menjadi lautan darah.
“Aku bukan dokter bedah, tapi dia harus rasakan apa yang keluargaku rasakan. SLOW. Perlahan.. namun menyakitkan. Hahahaha”William pun tak melupakan kata-kata itu. Ia pun mencuci tangannya dan menghampiri  Wodie dan Mary sambil bertepuk tangan.
“Y..Ya W..William, T..tapi K..ka..u memang berbakat menjadi d..dok..ter b..bedah!”Ucap Wodie memuji William agar ia tidak menyakiti Wodie dan Mary. William hanya tersenyum.
“Kau takut padaku? Hahahaha”William tertawa keras mengejek Wodie. Wodie merasa tertantang dengan kata-kata itu.
“Oh aku tidak takut padamu! Kamu sengaja menggoreskan kata SLOW pada korban-korbanmu karena kata SLOW pula adalah inisial dari semua nama korbanmu bukan? Scott, Lodda, Oxel, dan siapa korban selanjutnya yang berinisial W? Wodie??”Tanya Wodie tanpa rasa takut. Mary tak berani angkat bicara. William terlihat bingung.
“Aku tak pernah sama sekali menyusun nama korbanku dengan kata SLOW. Mungkin itu hanya kebetulan. SLOW yang kumaksud adalah perlahan. Aku membunuh mereka dengan perlahan… namun menyakitkan!”Jawab William.
“Apa itu adalah kalimat tipu dayamu untuk membunuhku?  Korban dari pamanmu berjumlah 4, mungkin saja kamu akan membunuh 1 orang lagi setelah Scott, Lodda, dan Oxel untuk menggenapkan dan menyempurnakan permainan dendammu!!”Kata Wodie. William tampak terlihat kesal mendengarnya, karena William sama sekali tidak merencanakan itu. Karena tertantang, William pun mengambil pisau yang tergeletak di lantai.
“Bila itu maumu, aku akan menggenapkannya menjadi 4!”Ucap William sambil menggenggam sebuah pisau.
“Silahkan, bunuh aku..”Kata-kataku membuat tangisan Mary bertambah kencang.
“William.. tolong jangan bunuh Wodie!”Kata Mary meminta belas kasihan sambil berlutut di kaki William.
“Berdirilah, Mary. Aku akan melakukan itu”Ucap William. Mary pun berdiri sambil menghapus air matanya. William pun menggoreskan kata SLOW pada lengan kirinya dengan pisaunya sembari Manahan sakit.
“Apa yang kamu lakukan, William!?”Kata Wodie berusaha menghentikan William. Gagal.
“Aku bosan.. Aku memang tidak berguna disini. Dan aku juga merasakan apa yang mereka rasakan. Impas bukan?”Kata William yang sudah menyelesaikan menggores lengannya. Wodie dan Mary sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan William.
“Untuk membentuk kata SLOW, membutuhkan huruf W bukan?”Tanya William sambil melihat hasil goresannya pada lengannya sambil terus menggenggam pisau. Wodie dan Mary hanya mengangguk.
“Scott, Lodda, Oxel, dan W…. untuk William!”JLEB. Saat itu pula William menancapkan pisau itu pada perut kanannya sendiri, sehingga ia terjatuh lemah. Wodie dan Mary segera menghampiri William sambil menangis.
“William, mengapa kau lakukan itu untuk dirimu? Mengapa tidak untukku?”Tanya Wodie pada William di detik-detik ajalnya. William menggeleng lemas.
“BIAR AKU TELEPON AMBULANS!!”Teriak Mary sambil menangis dan bergegas berdiri.
“Mary, jangan…”Pinta William dengan lemas sambil menahan sakit yang mendalam pada perut kanannya. Mary pun menghentikan langkahnya sambil melihat kearah William dan menangis.
“Rahasiakan k..kematian..ku”Itulah kalimat terakhir William sebelum akhirnya ia menghembuskan hafas terakhir. Mary menangis melihat hal itu, Wodie hanya menutup mata sejenak dan mencoba merelakan hal itu terjadi.
Wodie pun menguburkan mayat Oxel dan William di tanah belakang toko, ia menguburkannya dengan tanah yang rata dan tanpa gundukan seperti biasa di tempat pekuburan, agar tidak mencirikan bahwa itu adalah sebuah makam.
Sedangkan Mary membersihkan dapur dari sisa-sisa darah. Setelah akhirnya mereka kembali menyelesaikan pesanan cupcake yang hampir selesai, dengan perasaan yang mengganjal. Merasa sedih dan takut. Mereka tak percaya semuanya akan seperti ini.
--
Esok harinya, banyak yang menanyakan keberadaan William dan Oxel. Namun dengan alasan tersendiri, Wodie menjawabnya,
“William dan Oxel mengundurkan diri, William akan tinggal di rumah neneknya di kota sebrang entah dimana. Dan Oxel, dia mengundurkan diri karena sudah tidak sanggup bekerja disini”
Dan syukurnya, semua karyawan percaya dengan apa yang dikatakan Wodie.
“Wodie, kantor polisi melepon ingin mengabarkan mayat Lodda pada William.. Mungkin handphone William ikut terkubur sehingga polisi itu menelpon ke toko ini”Bisik Mary pada Wodie yang sedang meminum segelas air putih.
“Bilang saja, William sudah mengundurkan diri dari sini, ia sudah tinggal di rumah neneknya di kota sebrang entah dimana. Untuk mayat Lodda, bilang padanya, William berpesan, tolong makamkan Lodda karena William sudah merelakan kematian Lodda”
Mary pun segera menuruti apa yang di katakan Wodie, sebelum akhirnya mendapat jawaban dari polisi yang cukup memuaskan dan menutup telepon.
Untungnya lagi, keluarga Scott sudah menerima dengan sabar semua yang terjadi pada Scott dan tidak mau di ungkit-ungkit kembali masalah itu setelah upacara pemakaman Scott dan Lodda secara bersamaan.
Dalam keluarga Scott, hanya Scott lah yang pandai ber-wirausaha. Sehingga itu, Keluarga Scott mempercayai Wodie dan semua karyawan lain untuk membuat toko kue itu tetap berdiri. Untuk tambahan dekorasi, kekurangan peralatan lain dan gaji mereka akan di tanggung oleh ayah Scott yang juga kaya raya. Setengah keuntungan dari penjualan diberikan kepada keluarga Scott dan setengahnya lagi ada untuk membeli bahan-bahan untuk membuat kue dan sisanya dibagi rata untuk semua karyawan sebagai bonus keuntungan.
Bisnis pun kembali berjalan, keuntungan pertama mereka dapatkan dari pemesanan 450 cupcake coklat. Semua senang dengan bisnis baru ini, sangat menguntungkan dan menyenangkan. Selain itu, ayah Scott memang ramah dan tidak seperti Scott. Walaupun ia jarang mengontrol toko kue itu. Toko kue itu juga telah mendapatkan 3 orang baker baru yang profesional. Dan, karena tidak ada yang mengusulkan nama untuk toko kue itu, Wodie mengusulkan nama “Psycholatte’s Cake” untuk nama toko kue itu. Semua bingung dengan arti Psycholatte pada usulan Wodie. Namun Wodie hanya berkata,
“Haha.. aku hanya mengarang nama itu, terlihat unik untuk sebuah toko kue coklat?”
Akhirnya semua setuju dengan usulan Wodie. Ayah Scott mulai memanggil pekerja untuk memasang plang bertulisan “Psycholatte’s Cake” didepan toko kue itu.
Setelah semuanya selesai, toko kue berjalan normal dan kini dengan tampilan lebih menarik. Sampai saat itu, kematian William dan Oxel masih menjadi rahasia belaka. Tanah belakang toko yang dulu adalah makam tersembunyi William dan Oxel kini telah menjadi taman bermain untuk para pengunjung yang membawa anak kecil. Dan, Wodie merahasiakan bahwa nama Psycho pada nama toko, ia ambil dari Psikopat. Agar ia selalu mengenang William dan kue buatannya. Biarlah semua menjadi kenangan dan misteri belaka.
-END-

John Denver - Leaving on a jetplane lyrics


All my bags are packed I'm ready to go
I'm standin' here outside your door
I hate to wake you up to say goodbye
But the dawn is breakin' it's early morn
The taxi's waitin' he's blowin' his horn
Already I'm so lonesome I could die

So kiss me and smile for me
Tell me that you'll wait for me
Hold me like you'll never let me go
Cause I'm leavin' on a jet plane
Don't know when I'll be back again
Oh babe, I hate to go

There's so many times I've let you down
So many times I've played around
I tell you now, they don't mean a thing
Every place I go, I'll think of you
Every song I sing, I'll sing for you
When I come back, I'll bring your wedding ring

So kiss me and smile for me
Tell me that you'll wait for me
Hold me like you'll never let me go
Cause I'm leavin' on a jet plane
Don't know when I'll be back again
Oh babe, I hate to go

Guitar Solo

Now the time has come to leave you
One more time let me kiss you
Close your eyes I'll be on my way
Dream about the days to come
When I won't have to leave alone
About the times, I won't have to say

So kiss me and smile for me
Tell me that you'll wait for me
Hold me like you'll never let me go
Cause I'm leavin' on a jet plane
Don't know when I'll be back again
Oh baby, I hate to go

Cause I'm leavin' on a jet plane
Don't know when I'll be back again
Oh babe, I hate to go