“William,
sepertinya kamu senang bekerja disini”Ucap Scott sang pemilik toko sambil
tersenyum dan memperhatikan William, karyawan baru yang sedang memanggang kue. Kue
buatannya memang banyak disukai pelanggan toko kue itu, selain dibuat dari
bahan-bahan yang berkualitas, kue di toko itu khususnya buatan William dan
baker-baker pro lainnya, memang sangat lezat. William dan Wodie memang baker
terfaforit di toko itu. Karyawan toko itu memang terseleksi, jadi walaupun William
adalah karyawan baru, dia sudah profesional. Sayangnya, toko kue yang khusus
untuk kue coklat super mewah yang selalu dipenuhi pelanggan itu tak memiliki
nama yang pasti, sang pemilik toko memperbolehkan semua orang untuk menyebut
toko itu dengan nama apapun. Entah mengapa. Itu menjadi alasan tersendiri bagi
sang pemilik toko.
“Aku memang sangat senang bekerja disini”Jawab William.
Wodie melihat kearahnya sambil tersenyum.
“Bagus kalau begitu”Scott menepuk-nepuk bahu William
sambil tertawa senang. William mematikan oven dan mengeluarkan kue yang hampir
sempurna dari dalamnya. Sedangkan Wodie yang sedari tadi menghias kue buatannya
dengan parutan keju dan selai coklat, tersenyum senang karena kue buatannya
telah jadi dengan sempurna. Sedangkan baker lain sibuk membuat adonan dan
pekerjaan-pekerjaan lainnya. Scott memperhatikan apa yang mereka lakukan sambil
tersenyum, merasa bisnis toko kue nya telah berhasil.
“Oh iya!”Seru William sambil merongoh kantong jas
nya dan mengambil secarik kertas.
“Perhatikan! Kita punya pesanan 450 buah cupcake
coklat untuk 3 hari kedepan, yaitu tanggal…hmm.. 13! Pemesan akan mengambilnya
kesini.” Lanjut Scott sambil membaca isi kertas tersebut. Semua baker
memperhatikan Scott sambil mencerna ucapannya lalu mereka semua mengangguk
tanda mengerti.
“Karena pemesan kue berani membayar lebih, kalian
semua juga harus bekerja lebih keras lagi. Maka, khusus bagi para baker, kalian
semua lembur sampai pekerjaan selesai!”Perintah Scott.
“Apakah tuan juga akan ikut lembur bersama
kami?”Tanya Oxel pada Scott.
“Jelas tidak! Hey, dengar. Aku membayar kalian untuk
bekerja, bukan untuk aku menemani kalian kesusahan. Kesuksesan itu miliku bukan
milik KALIAN!”Ujar Scott dengan angkuhnya. Semua baker menunduk mendengar
ucapan Scott.
“A..Apa tuan tidak membutuhkan manager untuk menjaga
toko selagi kami bekerja?”Wodie mengangkat kepala takut-takut. 3 baker lainnya
melirik kearah Wodie.
“Aku tidak memerlukan manager! Ini tokoku. Aku
sendiri pun bisa menjaga tokoku tanpa seorang manager!!”Kata Scott. Wodie
kembali menunduk.
“Tapi tuan, kami hanya 4 orang. Tidak mudah membuat
kue sebanyak itu selama 3 hari. Apakah tuan tidak mencoba memanggil pekerja sampingan?”Usul
Mary. 3 baker lain mengangguk setuju. Namun, hal itu membuat pemilik toko yang keji
itu semakin naik darah.
“SEKALI LAGI… AKU MEMBAYAR KALIAN UNTUK BEKERJA!
Kalian tidak berhak mengaturku semaunya. Aku sudah mempercayai baker
profesional seperti kalian, mana mungkin aku asal memanggil baker serampangan
yang belum tentu kue buatannya berkualitas! Sudah. Kerjakan tugas kalian malam
ini, kalian tidak boleh tidur semalaman!”Kata Scott panjang lebar. Hal itu
membuat para baker melemas.
“Oxel! Beritahu aku bila ada yang melanggar
peraturan ini. Tak akan kuberi gaji! Oxel, kupercayakan padamu!”Scott menepuk
bahu Oxel dan berlalu pergi meninggalkan dapur.
9:30
p.m
Semua karyawan toko kue itu sudah pulang kecuali
para baker. Saat itu pula Scott kembali ke dapur dan kembali mengancam mereka
dengan ucapan-ucapan yang khas. Tak ada puasnya dia mengucapkan itu. Memang
menyakitkan.
Setelah Scott dan karyawan lain meninggalkan para baker, mereka pun kembali
sibuk bekerja. Pukul 11:50 a.m Setelah
membuat lebih dari 50 kue, William merasakan rasa kantuk yang amat sangat dia
pun memutuskan untuk mencuci muka. Kamar mandi pelanggan toko kue itu memang
sangat mewah, namun sebaliknya. Kamar mandi khusus karyawan, jauh lebih buruk
dari tempat pembuangan barang bekas.
William membuka keran dan merasakan sentuhan air
dingin di tangannya dan segera membasuh wajahnya. Drug..Drug..Drug sebuah
jendela kayu kecil yang menghubungkan antara kamar mandi dan gang kecil di
sebelah toko yang tertutup rapat itu menimbulkan suara, seperti ada seseorang
yang berusaha membukanya. William mengalihkan pandangannya pada jendela
tersebut. Seketika suara tersebut berhenti sejenak.. Ketika William tidak
menghiraukannya, suara itu semakin kencang dan membuat William penasaran.
“Siapa disana?”Tanya William sambil mendekati
jendela tersebut. Namun, suara itu kembali berhenti.
“Tolong jangan mengerjaiku!”Sentak William.
“Ini paman..”Suara itu muncul dari sela-sela kayu
jendela itu. William tersentak kaget. Dia memang tidak bisa melihat orang
tersebut, namun dia mengenali suaranya.
“PAMAN!? Paman mau apa? Jangan macam-macam
denganku!”Teriak William sambil mendorong jendela kayu yang memang tidak dapat
dibuka sehingga menimbulkan suara yang cukup keras. Tiba-tiba Wodie dan Oxel
berlari menuju kamar mandi tempat William berada dan mengetuk-ngetuk pintu
kamar mandi William.
“William, ada apa denganmu?”Tanya Wodie khawatir.
William segera membukakan pintu kamar mandi dan melihat wajah Wodie yang
khawatir dan Oxel yang menaikan alis sambil menyilangkan tangan di dadanya dan
mengetuk-ngetukan kakinya di lantai.
“Aku tidak ada apa-apa, Wodie. Hanya ada sedikit hal
yang menganggu”Jawab William.
“Apakah itu salah satu dari alasanmu untuk tidur di
kamar mandi?”Interogasi Oxel dengan sinisnya. William menggeleng cepat.
“Aku hanya sedikit mengantuk dan membasuh wajahku,
itu saja.”Katanya jujur.
“Hanya itu? Kudengar kamu berteriak keras”Tatapan
Oxel semakin sinis membuat seseorang yang melihatnya serasa ingin mencolok
matanya.
“Pamanku datang padaku, dan aku hanya tidak ingin
terjadi apa-apa denganku. Cukup?”Jawab William yang mulai kesal dengan tingkah
Oxel.
“Hmm.. Maaf, aku harus melanjutkan pekerjaanku.
Permisi..”Ucap Wodie sambil tersenyum dan meninggalkan William dan Oxel.
Pembicaraan William dan Oxel terpotong sejenak, setelah Wodie tak terlihat
lagi, mereka melanjutkan pembicaraan sengit itu.
“Seberapa buruk kah pamanmu sehingga kamu mencurigai
pamanmu akan memutilasi tubuhmu? Mustahil!”Kata Oxel mencibir.
“Hey, asal kamu tau. Aku pekerja baru, dan kamu
tidak tau apa-apa soal hidupku! Pamanku seorang psikopat yang sakit jiwa! Dia
bisa menghabiskan nyawaku dan orang lain, sekali pun lelaki udik
sepertimu!”Kata William.
“Hahaha pernah ku dengar kata-kata itu dalam sebuah
FILM. Psikopat tidak pernah ada! Sekali pun ada, aku dulu yang akan
mencincang-cincang dagingnya dan ku jadikan kue di toko ini hahahaha”Ledek Oxel
sambil tertawa keras menganggap ucapan William adalah sebuah omong kosong.
“Tidak ada gunanya berbicara dengan orang bodoh
sepertimu.” Kata William sambil mendorong bahu Oxel dan pergi menuju dapur dan
meninggalkannya.
Esoknya…
“Apa kita benar-benar tidak boleh tidur?”Tanya Mary
lemas sambil menghias cupcake dengan taburan kismis. Oxel menggeleng cepat.
“Tidak boleh! Sampai besok pagi!”Ucap Oxel.
Sebenarnya dia juga sudah mulai mengantuk.
“Sebentar lagi toko di buka, pekerjaan kita akan
bertambah..”Ucap Wodie yang sedang
mencampurkan adonan.
KRINGGG…KRINGGG….
Seketika telepon di toko itu berbunyi, Karyawan di
luar dapur memang biasanya datang 1 jam lagi. Jadi tidak ada karyawan lain yang
bertugas mengangkat telepon pagi itu. Wodie meninggalkan pekerjaannya dan
berlari mengangkat telepon.
“Selamat
pagi. Ada yang bisa kami bantu?”sapa Wodie.
William dan Mary mendengarkan ucapan Wodie di
telepon. Namun Oxel tidak menghiraukan dan sibuk dengan pekerjaannya sambil
terus menguap menahan kantuk.
“Siapa yang menelpon di pagi buta seperti ini?”Tanya
William heran.
Seketika itu raut wajah Wodie berubah menjadi aneh,
seperti tak mengerti apa yang di ucapkan penelpon.
“William…”Panggil Wodie sambil menjauhkan gagang
telepon dari telinganya.
“Telepon dari siapa, Wodie?”Tanya William. Wodie
menggeleng.
“Dia terus menerus memanggil namamu, William.
Mungkin dia ingin berbicara denganmu…”Ucap Wodie sambil mengerutkan kening dan
mengarahkan gagang telepon itu pada William. William merasa aneh dan penasaran
lalu segera meraih gagang telepon itu dari tangan Wodie.
“Halo..
aku William. William Mayer, anda mencariku?”Sapa William
dengan ramah.
“Aku
butuh organ tubuh manusia yang segar..”Ucap sang penelpon.
“M..Ma..Maaf
i..ini toko k..kue”Jawab William gugup sambil terus melirik
kearah Wodie.
“William!
Aku butuh organ tubuh manusia yang segar”Sang penelpon
mengulang kembali ucapannya kali ini menyebut nama William, sehingga dia tau
siapa penelpon itu.
“Apa
yang paman inginkan!?Jangan ganggu kehidupanku, kamu sudah banyak merengut
nyawa orang-orang yang kusayang!”Sentakku. Sontak semua
baker melihat kearahku.
“Apa kau kenal dia, William?”Tanya Wodie. Namun
William tidak memperhatikannya.
“Sebentar
lagi aku menuju kediaman ayah, ibu, dan kedua adikmu..”Kata
sang penelpon sambil tertawa renyah.
“MAU
APA KAMU?”Tanya William gusar. Kini Oxel pun ikut
memperhatikan William. Jarak telepon dengan dapur memang cukup dekat.
“Aku
butuh organ tubuh manusia yang segar..”Ucap penelpon terakhir
kalinya sebelum menutup telepon.
“Halo?
Hey jangan macam-macam!! HALO!??”BRAAK. William membanting
gagang telepon itu ke tempat asalnya.
“SIALAN!!!!!”Teriaknya keras sambil mengacak-acak
rambutnya. Para baker yang tidak tahu menahu hanya memperhatikannya sambil
terus bekerja. Wodie dan Mary tak berani bertanya apapun pada William.
Sedangkan Oxel hanya mencibir.
“Telepon…telepon!”William kembali mengangkat gagang
telepon sambil memencet cepat tombol-tombol angka pada telepon tersebut. BRAAK!
Dan, yang kedua kalinya ia membanting gagang telepon itu.
“SIAALLLL!!!!!”Amarah William meledak ketika ingat
bahwa telepon di rumahnya rusak dan handphone nya tertinggal di rumah.
“Aku harus pulang sebelum psikopat gila itu
mengambil organ-organ ayah,ibu,dan adik-adikku..”Gumam William sambil
mengepalkan tangannya dengan erat. William kembali menuju dapur dengan cepat.
Dan dengan cepat pula ia membereskan tasnya. Semuanya melihat apa yang di
lakukan William.
“Ada apa, William?”Tanya Mary.
“Aku harus pulang, psikopat itu menuju rumahku! Aku
harus menyelamatkan keluargaku secepatnya”Kata William sambil menutup resleting
tas nya.
“Tidak bisa! Kamu tidak boleh melanggar
peraturan!”Sela Oxel.
“Ini masalah nyawa. Apa kamu akan bertanggung jawab
bila semuanya benar-benar terjadi!?”Sentak William sambil mengendong tas nya.
JDAAAG.. Oxel menonjok wajah William hingga membiru
dan meremas kedua kerah baju William dengan satu tangannya.
“SUDAH KUBILANG!! Psikopat itu hanya ada dalam film.
Buktikan bila itu nyata! MUSTAHIL!”Sentak Oxel. Setelah berkata seperti itu
Oxel melepaskan kedua kerah William.
“Ada apa teriak-teriak!?”Sentak Scott yang tiba-tiba
berada di pintu dapur. Wodie melihat jam tangannya. Setengah jam lagi toko di
buka, ini memang sudah jadwalnya Scott
berada disini.
“William Mayer memaksa hendak pulang, aku sudah
melarangnya. Dia tetap memaksa dan menyentakku”Adu Oxel. Dia seperti sangat
bahagia sudah mengadukan William pada Scott. Scott menatap tajam kearah
William..
“Oxel, tahan dia!”Perintah Scott. Oxel pun segera menahan
kedua tangan William sehingga William tidak bisa lari dari keadaan itu.
“Lepaskan!!”Teriak William sambil mencoba melepaskan
tangannya. Gagal.
“Ada perlu apa kamu pulang?”Tanya Scott melihat
William dari kepala sampai kaki.
“Pamanku akan membunuh ayah, ibu, dan adik-adikku.
Aku harus segera menyelamatkan mereka!!”Ujar William gusar.
“Hmm… siapa nama pamanmu?”Tanya Scott memulai
basa-basi busuknya.
“Lodda Pietcon. Seorang psikopat yang membahayakan.
Cukup? Aku ingin segera pulang. Kalau perlu, aku mengundurkan diri dari
pekerjaan ini”Jawab William kesal.
“Entahlah, aku tidak kenal dia”Ucap Scott sambil
mengarahkan diri pada peralatan dapur dan mengambil sebilah pisau dan kembali
menuju kediaman William.
“Ini balasan untuk orang yang hampir menghancurkan
kesuksesanku….”Ucap Scott sambil menggoreskan pisau itu ke pipi William hingga
darah mengalir dari pipi yang tergores itu. Wodie dan Mary hanya terdiam
melihat kejadian itu. Mereka takut terjadi sesuatu pada William setelah Scott
melakukan itu.
“Kurang ajar!!”DUGG… William menyikut perut Oxel
sehingga tangannya terlepas dari tangan Oxel yang sibuk kesakitan bersama
perutnya. William menghapus noda darah yang ada di pipi nya.
“Siapa yang menyuruhmu bekerja di toko kue ku?
Hahahaha”Scott tertawa keras. William menatap Scott dengan penuh dendam dan
berlari membawa tas nya untuk menyelamatkan keluarganya di rumah.
“Kembalilah kemari setelah keluargamu mati…
Hahahahahaaha”Scott kembali tertawa puas melihat perginya William.
(Di rumah William)
BRAAAKKK…..
William mendobrak pintu gudang di rumahnya dan
menemukan jasad-jasad ayah, ibu, dan adik-adiknya yang tanpa nyawa dan…. tanpa
organ tubuh yang lengkap (mata, ginjal, dan hati) William benar-benar menyesali
semua yang telah terjadi. Dia menangisi kematian keluarganya.
“TEGANYA DIA MEMBUNUH KAKAK KANDUNGNYA SENDIRI!!
LAKNAT!!”Teriak William sambil menghapus air matanya.
William menggali tanah yang agak lebar di samping
rumahnya, ia pun menguburkan jasad keempat keluarganya sambil merasakan sakit
hati yang teramat dalam, hanya dibalutkan kain seprei, ia pun menguburkan
keempat keluarganya. Sayangnya, saat itu dia tidak menemukan pamannya, Lodda.
Sehingga dendam itu belum terbalaskan. Sesuai yang dikatakan Scott, William pun
kembali ke toko kue itu.
(Toko kue)
“Kembali juga kau!! Bagaimana keluargamu? Semua yang
kau pikirkan mustahil terjadi!!”Sambut Scott dengan semburan omongannya.
“….Semua keluargaku meninggal!!”Ujar William dengan
wajah datar, Wodie terus mengintip apa yang terjadi dengan William dan Scott
dari lorong dapur. Scott terlihat sedikit kaget mendengarnya.
“Oh.. Sepertinya kamu sudah ikhlas menerimanya. Hmm,
sudahlah kembali bekerja!”Perintah Scott.
“Sebelumnya, aku ada perlu sebentar denganmu, tuan Hmm… masalah, tawaran satu set meja makan
secara gratis”Ucap William.
“Gratis katamu!? Ok, kita berbicara dimana?”Tanya Scott
dengan mata berbinar.
“Hmm.. di gang sebelah toko saja, disana ada kursi
yang nyaman..”Jawab William masih dengan wajah datar.
Scott lalu mengikuti William ke gang sebelah toko,
dekat jendela kayu di kamar mandi dekat dapur. Wodie terus memperhatikan
mereka, sayangnya, ia tidak bisa mengikuti Scott dan William setelah itu.
“Apa yang bisa aku lakukan untuk satu set meja makan
gratis itu, William?”Tanya Scott.
William hanya diam berdiri dengan tatapan kosong.
“Hey, kamu bilang ada kursi yang nyaman? Disini
tidak ada kursi. Mengapa tidak di ruanganku saja sih? Lebih nyaman dan
mewah!”Kata Scott sambil melihat sana-sini.
“Maaf.”William hanya menjawab singkat sambil mencari
sesuatu di bawahnya.
“Jadi, apa yang bisa aku lakukan untuk satu set meja
makan gratis itu?”Scott mengulang pertanyaannya.
“Hmm… tuan harus…..”
PAAAKK…
William mengambil sebuah batu besar di dekat kakinya
dan menimpanya kearah bahu Scott sehingga Scott tak sadarkan diri.
CRAAK..
William mengeluarkan sebuah pisau lipat dari
ranselnya. William mengambil sebuah kantong plastik hitam besar dan menaruhnya
di tanah. William mulai mengambil organ-organ tubuh Scott dengan pisaunya dengan
perlahan-lahan dan menaruh organ-organ itu dalam plastik hitam. Darah Scott
berceceran, Scott sudah tidak bernyawa. William membiarkan mayat Scott
terbaring disana. Sebelumnya, Scott menggoreskan kata SLOW di lengan kanan
Scott dengan pisaunya. Orang-orang yang melihat kejadian itu tentu merasa
jijik.
“Aku bukan dokter bedah tapi dia harus rasakan apa
yang keluargaku rasakan. SLOW. Perlahan.. namun menyakitkan. Hahahaha”Tawanya
memasukan pisau lipatnya kedalam kantong celananya sambil melihat mayat Scott
yang tanpa organ dan membawa plastik hitam itu ke tempat sampah belakang toko
dan membakar plastik hitam itu beserta isinya sambil tertawa puas.
“Bodoh! Mengapa kau membakar organ-organ itu!? Kau
bisa mendapatkan apa yang kau inginkan dengan menjual organ-organ itu!”Lodda
Pietcon yang tiba-tiba datang di dekat tempat sampah belakang toko. Sontak
William melihat kearahnya dengan tatapan dendam. William mengambil pisau
lipatnya di dalam kantong celananya dan menyembunyikannya dibalik punggungnya. William
menyembunyikan tatapan dendamnya dengan sebuah senyuman.
“Kebetulan aku bertemu denganmu. Maafkan aku paman,
aku akan turuti semua maumu…”Ucap William seraya berakting memeluk pamannya dan
JLEBB. Pisau lipat itu tertusuk di perut kanan Lodda Pietcon sehingga ia jatuh
melemah. William melakukan hal yang ia lakukan pada Scott pada pamannya. Tak
lupa ia memasukan organ-organ Lodda kedalam kantong plastik hitam dan
membakarnya. Dan menggoreskan kata SLOW di lengan kanan Lodda.
“Aku bukan dokter bedah, tapi dia harus rasakan apa
yang keluargaku rasakan. SLOW. Perlahan.. namun menyakitkan. Hahahaha”William
kembali mengulang ucapannya sebelum akhirnya meninggalkan mayat Lodda Pietcon
dan kembali ke dapur.
William mencuci tangan di wastafel kamar mandi untuk
menghilangkan noda darah pada tangannya.
“Noda apa itu?”Tanya Wodie yang tiba-tiba berada di
pintu kamar mandi yang tidak tertutup melihat noda merah di lengan kiri
William. DEG. William merasa degdegan dan mencari alasan yang tepat.
“Tadi aku baru mengecat tembok gang sebelah…. Ups,
maksudku pagar rumah sebelah. Seorang penghuni rumah memintaku untuk mengecat
pagarnya.”Ucap William berbohong sambil mencipratkan noda itu dengan air
sehingga noda darah itu hilang. Kebetulan, cat pagar rumah sebelah memang
berwarna merah. Wodie mengendus-endus.
“Seperti bau amis…”Wodie masuk ke kamar mandi sambil
memperjelas aroma bau amis yang tercium. William yang sudah selesai
membersihkan tangan langsung berpura-pura membasuh wajah.
“Mungkin tikus mati? Atau hanya hidungmu saja yang
sedang flu mungkin”William berpura-pura mencari tikus mati di sekitar kamar
mandi.
“Hmm? Sudahlah! Kembali bekerja, nanti kamu dimarahi
Tuan Scott”Kata Wodie kembali ke dapur meninggalkan William.
“Scott sudah pulang sejak tadi karena ada
urusan!”Kata William berusaha menutupi semua kejadian tadi.
Esoknya..
Jasad Scott dan Lodda di temukan oleh warga sekitar.
Warga tidak mengenali Lodda, namun mereka mengenali Scott karena memang toko
kue coklat miliknya yang sudah terkenal. Semua karyawan toko kue termasuk
William melihat kejadian itu. Saat itu banyak kawanan polisi, kawanan wartawan
dan paparazzi, sebuah mobil ambulans, juga beberapa keluarga Scott pun hadir.
William berpura-pura kaget melihat hal itu.
“Oh! Dia pamanku! Lodda Pietcon! Oh.. paman, mengapa
bisa seperti ini?”Tunjuk William pada mayat Lodda yang kini berada di samping
mayat Scott sambil berpura-pura sedih. Kawanan polisi meneliti mayat Lodda dan
melihat mayat Lodda dengan kondisi yang sama dengan mayat Scott, tanpa organ.
Wodie melihat curiga kearah William. Wodie menghampiri mayat Lodda dan melihat
sebuah keganjilan.
“Permisi pak…”Wodie mengucapkan kata permisi pada polisi
yang meneliti mayat Lodda. Wodie mengangkat lengan kanan Lodda dan melihat
sebuah goresan sebelum akhirnya ia kembali berdiri.
“Kedua mayat ini memiliki beberapa kejanggalan.
Mayat Scott dan Lodda meninggal dengan keadaan yang sama, tanpa organ. Jarak
mayat Scott dan Lodda tidak terlalu jauh. Dan di lengan kanan mereka sama-sama
tergores kata ‘SLOW’ sudah jelas,
tersangka hanya satu orang dan… tak jauh dari sini!”Wodie berusaha
menyindir William. Sebenarnya Wodie sudah meneliti gerak-gerik William yang
mencurigakan dan cat pagar rumah sebelah.
Semua orang memperhatikan Wodie, termasuk para
wartawan dan paparazzi.
“Baiklah, kedua mayat ini harus diteliti lebih
lanjut, saya mencatat anda sebagai keluarga dari Lodda Pietcon. Siapa
namamu?”Tanya salah satu polisi sambil menuliskan sesuatu disebuah buku hitam
kecil.
“William Mayer”Jawab William, hatinya mulai tak
tenang. Dia mulai mencurigai Wodie yang sudah tau apa yang sudah dilakukannya.
“William Mayer. Nomor telepon?”Tanya seorang polisi
kembali menuliskan nama William pada bukunya.
“081234567899”Jawab William sembari polisi itu
mencatat nomornya.
“Kami akan segera menghubungi anda. Terima
kasih!”Polisi itu menyalami William sebelum akhirnya meninggalkan toko kue dan
membawa dan memasukan kedua mayat itu kedalam ambulans.
Toko kue pun di liburkan untuk sementara, sedangkan
para baker yang masih sibuk mengurusi pesanan cupcake kemarin, tetap berada di
dapur. Sebelumnya, para baker di izinkan untuk beristirahat/tidur selama
beberapa jam sebelum akhirnya mulai bekerja.
“Hmm.. kudengar tidak ada yang mengecat pagar rumah
sebelah”Ucap Wodie pada William yang sedang berusaha membuka kaleng selai coklat
dengan sebuah pisau. Mary dan Oxel melihat kearah mereka berusaha untuk
mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.
“Mungkin kamu salah dengar..”Sela William sedikit
deg-degan.
“Hey, aku melihatnya sendiri. Cat pagar rumah itu
memang berwarna merah, namun merah yang lama dengan merah yang baru di cat itu
sangat jauh berbeda!”Wodie berusaha memojoki William dengan kata-katanya.
“Kalau aku memang tidak mengecat pagar itu, memang
kenapa? Masalahmu?”Tanya William datar sambil terus mencoba membuka tutup
kaleng yang belum juga terbuka.
“Oh, jadi kau yang membunuh Scott dan pamanmu
sendiri?”Tanya Wodie berbisik pada William dengan nada sinis. Berusaha agar
Mary dan Oxel tidak mendengarnya.
“Kalau masalah itu aku tak tau apa-apa!”Sela
William, perasaannya mulai tak karuan.
“Aku tau, kamu sangat membenci Scott karena dia yang
menyita waktumu untuk segera menyelamatkan keluargamu dan kamu adalah orang terakhir
yang bersamanya kemarin . Dan tanpa berpikir juga aku tau kamu sangat membenci
pamanmu yang telah membunuh keluargamu. Dengan itu, kamu memiliki dendam pada
mereka dan rela membunuh mereka demi dendammu yang belum terbalaskan. Dan
sekarang, kamu sudah puas telah membalas mereka?”Wodie berbisik dan menguak
semuanya.
“Pemikiranmu salah! Aku tidak melakukan itu!”Ucap
William.
“Mengakulah bila dirimu bukan pecundang, dan sebelum
keluarga Scott menuntutmu hukuman mati!”Wodie berbisik agak keras. Mary dan Oxel
yang tak tahu menahu hanya sibuk dengan pekerjaan mereka dan tidak mencampuri
urusan William-Wodie.
TAAKK..
“APA MAKSUDMU!?”William mengetukan pisau yang dipegangnya
dengan keras diatas meja tempatnya sekarang. Wodie yang mulai takut sedikit
menjaga jarak dengan William.
“Mengakulah dihadapan kami, William!”Kali ini Wodie
meneriakkan kalimat itu, selagi para karwayan selain mereka telah pulang
terlebih dahulu, para baker adalah orang-orang paling terpercaya di toko itu.
Sontak Mary dan Oxel melihat kearah William dan Wodie.
Setelah kepergian Scott yang secara mengenaskan, Oxel tak lagi banyak
berbicara. Maklum, dia adalah karyawan terdekat Scott, selain mendapat gaji
terbesar (walaupun kue buatannya tak seenak William & Wodie) Ia juga sudah
dianggap sebagai ketua dari pekerja dapur/baker, karena Oxel yang paling suka
mengatur, memaksa, dan memerintah dengan kasar sekalipun.
“BAIKLAH! HEY, DENGAR SEMUA..AKU MENGAKU, AKULAH
YANG MEMBUNUH SCOTT DAN LODDA!”Teriak William di hadapan Wodie, mary, dan Oxel.
Sontak ketiga orang itu kaget. Sangat kaget.
“Y..Yeah k..kamu bukan p..pecundang!”Ucap Wodie,
takut bila William melakukan suatu hal mengerikan padanya.
“KURANG AJAR!”Teriak Oxel sambil meremas kerah baju
William. William menatap Oxel dengan tajam.
“KURANG AJAR KAU MEMBUNUH SCOTT! SIAPA LAGI YANG
AKAN MENGGAJIKU DENGAN GAJI TINGGI? AKU DAN KELUARGAKU SEDANG MEMBUTUHKAN UANG
UNTUK MENYEWA TEMPAT TINGGAL BARU! APA KAU MAU MEMBERIKAN SEMUA UANG KELUARGAMU
UNTUKKU, HAH!?”Teriak Oxel dengan penuh amarah.
“KAU HANYA MENGUNTUNGKAN DIRI SENDIRI. Silahkan
saja!! Ambil semua harta keluargaku semaumu!! Keluargaku sudah tidak
membutuhkannya!! Mereka sudah MATI!!!!!!”William membalas perkataan Oxel.
“Harusnya kau yang MENGUNTUNGKAN DIRI SENDIRI!!
Keluargamu mati? Hahaha… Karena psikopat itu? Lelucon yang garing bila
jawabanmu adalah YA.”Kata-kata itu semakin membuat William geram. Mary dan
Wodie melihat pertengkaran itu dengan rasa takut.
“Akan kubuktikan padamu bahwa psikopat itu ada…”Ucap
William.
“SILAHKAN.”Mungkin kalimat itu adalah kalimat
terakhir Oxel setelah pisau yang di pegang William itu menusuk perut bagian
kanannya dan Oxel pun lemah tak berdaya dengan tangannya yang mulai terlepas
dari kerah baju William.
“WILLIAM, KAU…………”Teriak Mary dengan wajah yang
ingin menangis melihat itu.
“Diamlah, jika kamu tidak mau menjadi salah satu
dari ini!!”Ujar William. Wodie berlari kearah Mary dan berusaha melindunginya.
William mencabut pisau itu dari tubuh Oxel, William
pun melakukan hal yang sama dengan hal yang ia lakukan pada Scott dan Lodda
pada Oxel. Mary hanya menangis sambil menutup mata melihat semua kejadian itu.
Sebelumnya, ia mengambil plastik hitam di dapur. Ia tidak mengambil banyak,
hanya organ mata dan hati dan memasukannya kedalam plastik hitam sebelum
akhirnya membuang dan membakarnya. Tak lupa William menggoreskan kata SLOW pada
lengan kanan Oxel. Dapur itu pun menjadi lautan darah.
“Aku bukan dokter bedah, tapi dia harus rasakan apa
yang keluargaku rasakan. SLOW. Perlahan.. namun menyakitkan. Hahahaha”William
pun tak melupakan kata-kata itu. Ia pun mencuci tangannya dan menghampiri Wodie dan Mary sambil bertepuk tangan.
“Y..Ya W..William, T..tapi K..ka..u memang berbakat
menjadi d..dok..ter b..bedah!”Ucap Wodie memuji William agar ia tidak menyakiti
Wodie dan Mary. William hanya tersenyum.
“Kau takut padaku? Hahahaha”William tertawa keras
mengejek Wodie. Wodie merasa tertantang dengan kata-kata itu.
“Oh aku tidak takut padamu! Kamu sengaja
menggoreskan kata SLOW pada korban-korbanmu karena kata SLOW pula adalah
inisial dari semua nama korbanmu bukan? Scott, Lodda, Oxel, dan siapa korban
selanjutnya yang berinisial W? Wodie??”Tanya Wodie tanpa rasa takut. Mary tak
berani angkat bicara. William terlihat bingung.
“Aku tak pernah sama sekali menyusun nama korbanku
dengan kata SLOW. Mungkin itu hanya kebetulan. SLOW yang kumaksud adalah
perlahan. Aku membunuh mereka dengan perlahan… namun menyakitkan!”Jawab
William.
“Apa itu adalah kalimat tipu dayamu untuk
membunuhku? Korban dari pamanmu berjumlah
4, mungkin saja kamu akan membunuh 1 orang lagi setelah Scott, Lodda, dan Oxel
untuk menggenapkan dan menyempurnakan permainan dendammu!!”Kata Wodie. William
tampak terlihat kesal mendengarnya, karena William sama sekali tidak
merencanakan itu. Karena tertantang, William pun mengambil pisau yang
tergeletak di lantai.
“Bila itu maumu, aku akan menggenapkannya menjadi 4!”Ucap
William sambil menggenggam sebuah pisau.
“Silahkan, bunuh aku..”Kata-kataku membuat tangisan
Mary bertambah kencang.
“William.. tolong jangan bunuh Wodie!”Kata Mary
meminta belas kasihan sambil berlutut di kaki William.
“Berdirilah, Mary. Aku akan melakukan itu”Ucap
William. Mary pun berdiri sambil menghapus air matanya. William pun
menggoreskan kata SLOW pada lengan kirinya dengan pisaunya sembari Manahan sakit.
“Apa yang kamu lakukan, William!?”Kata Wodie
berusaha menghentikan William. Gagal.
“Aku bosan.. Aku memang tidak berguna disini. Dan
aku juga merasakan apa yang mereka rasakan. Impas bukan?”Kata William yang sudah
menyelesaikan menggores lengannya. Wodie dan Mary sama sekali tidak mengerti
apa yang dikatakan William.
“Untuk membentuk kata SLOW, membutuhkan huruf W
bukan?”Tanya William sambil melihat hasil goresannya pada lengannya sambil
terus menggenggam pisau. Wodie dan Mary hanya mengangguk.
“Scott, Lodda, Oxel, dan W…. untuk William!”JLEB.
Saat itu pula William menancapkan pisau itu pada perut kanannya sendiri,
sehingga ia terjatuh lemah. Wodie dan Mary segera menghampiri William sambil
menangis.
“William, mengapa kau lakukan itu untuk dirimu?
Mengapa tidak untukku?”Tanya Wodie pada William di detik-detik ajalnya. William
menggeleng lemas.
“BIAR AKU TELEPON AMBULANS!!”Teriak Mary sambil
menangis dan bergegas berdiri.
“Mary, jangan…”Pinta William dengan lemas sambil
menahan sakit yang mendalam pada perut kanannya. Mary pun menghentikan
langkahnya sambil melihat kearah William dan menangis.
“Rahasiakan k..kematian..ku”Itulah kalimat terakhir
William sebelum akhirnya ia menghembuskan hafas terakhir. Mary menangis melihat
hal itu, Wodie hanya menutup mata sejenak dan mencoba merelakan hal itu
terjadi.
Wodie pun menguburkan mayat Oxel dan William di
tanah belakang toko, ia menguburkannya dengan tanah yang rata dan tanpa
gundukan seperti biasa di tempat pekuburan, agar tidak mencirikan bahwa itu
adalah sebuah makam.
Sedangkan Mary membersihkan dapur dari sisa-sisa
darah. Setelah akhirnya mereka kembali menyelesaikan pesanan cupcake yang
hampir selesai, dengan perasaan yang mengganjal. Merasa sedih dan takut. Mereka
tak percaya semuanya akan seperti ini.
--
Esok harinya, banyak yang menanyakan keberadaan
William dan Oxel. Namun dengan alasan tersendiri, Wodie menjawabnya,
“William dan Oxel mengundurkan diri, William akan
tinggal di rumah neneknya di kota sebrang entah dimana. Dan Oxel, dia mengundurkan
diri karena sudah tidak sanggup bekerja disini”
Dan syukurnya, semua karyawan percaya dengan apa
yang dikatakan Wodie.
“Wodie, kantor polisi melepon ingin mengabarkan
mayat Lodda pada William.. Mungkin handphone William ikut terkubur sehingga
polisi itu menelpon ke toko ini”Bisik Mary pada Wodie yang sedang meminum
segelas air putih.
“Bilang saja, William sudah mengundurkan diri dari
sini, ia sudah tinggal di rumah neneknya di kota sebrang entah dimana. Untuk mayat
Lodda, bilang padanya, William berpesan, tolong makamkan Lodda karena William
sudah merelakan kematian Lodda”
Mary pun segera menuruti apa yang di katakan Wodie,
sebelum akhirnya mendapat jawaban dari polisi yang cukup memuaskan dan menutup
telepon.
Untungnya lagi, keluarga Scott sudah menerima dengan
sabar semua yang terjadi pada Scott dan tidak mau di ungkit-ungkit kembali
masalah itu setelah upacara pemakaman Scott dan Lodda secara bersamaan.
Dalam keluarga Scott, hanya Scott lah yang pandai
ber-wirausaha. Sehingga itu, Keluarga Scott mempercayai Wodie dan semua
karyawan lain untuk membuat toko kue itu tetap berdiri. Untuk tambahan dekorasi,
kekurangan peralatan lain dan gaji mereka akan di tanggung oleh ayah Scott yang
juga kaya raya. Setengah keuntungan dari penjualan diberikan kepada keluarga
Scott dan setengahnya lagi ada untuk membeli bahan-bahan untuk membuat kue dan
sisanya dibagi rata untuk semua karyawan sebagai bonus keuntungan.
Bisnis pun kembali berjalan, keuntungan pertama
mereka dapatkan dari pemesanan 450 cupcake coklat. Semua senang dengan bisnis
baru ini, sangat menguntungkan dan menyenangkan. Selain itu, ayah Scott memang
ramah dan tidak seperti Scott. Walaupun ia jarang mengontrol toko kue itu. Toko
kue itu juga telah mendapatkan 3 orang baker baru yang profesional. Dan, karena
tidak ada yang mengusulkan nama untuk toko kue itu, Wodie mengusulkan nama “Psycholatte’s
Cake” untuk nama toko kue itu. Semua bingung dengan arti Psycholatte pada
usulan Wodie. Namun Wodie hanya berkata,
“Haha.. aku hanya mengarang nama itu, terlihat unik
untuk sebuah toko kue coklat?”
Akhirnya semua setuju dengan usulan Wodie. Ayah
Scott mulai memanggil pekerja untuk memasang plang bertulisan “Psycholatte’s
Cake” didepan toko kue itu.
Setelah semuanya selesai, toko kue berjalan normal
dan kini dengan tampilan lebih menarik. Sampai saat itu, kematian William dan
Oxel masih menjadi rahasia belaka. Tanah belakang toko yang dulu adalah makam
tersembunyi William dan Oxel kini telah menjadi taman bermain untuk para
pengunjung yang membawa anak kecil. Dan, Wodie merahasiakan bahwa nama Psycho pada
nama toko, ia ambil dari Psikopat. Agar ia selalu mengenang William dan kue
buatannya. Biarlah semua menjadi kenangan dan misteri belaka.
-END-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
What's on your mind?